Darilaut – Polusi plastik bukan hanya persoalan lingkungan yang mencekik satwa liar dan dapat membahayakan kesehatan manusia.
Plastik berbasis bahan bakar fosil ini menggangu habitat di laut dan dapat meracuni rantai makanan.
World Ocean Assessment melaporkan lebih dari 4.000 spesies laut diketahui terpengaruh oleh plastik.
Bahan berbasis rumput laut (Seaweed) dapat memberikan solusi dan membantu mengurangi krisis polusi plastik.
Melansir UN News, rumput laut, yang sepenuhnya dapat dikomposkan, muncul sebagai pengganti plastik yang menjanjikan – terutama dalam bentuk kemasan. Kemasannya dapat terurai secara hayati dari rumput laut dan tumbuhan.
Rumput laut sangat menjanjikan karena merupakan sumber daya terbarukan yang tumbuh dengan cepat tanpa air tawar, pupuk, atau lahan pertanian.
Produksi rumput laut global telah meningkat tiga kali lipat selama dua dekade terakhir, sementara ekspor telah meningkat empat kali lipat hingga mencapai $3,9 miliar pada tahun 2022.
Seiring meningkatnya adopsi, skala ekonomi meningkat dan solusi berkelanjutan menjadi semakin kompetitif, kata Ben Taylor, perwakilan dari Notpla, sebuah perusahaan yang berbasis di Inggris yang bekerja sama dengan UNCTAD (Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB.
Kesenjangan Regulasi




