Darilaut – Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyebutkan bahwa pengembangan industri udang harus berjalan seiring dengan upaya menjaga ekosistem mangrove sebagai penyangga keberlanjutan kawasan pesisir.
“Kebutuhan industri udang harus berjalan bersamaan dengan konservasi mangrove,” kata Trenggono saat Konsorsium Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM)-KONEKSI menyerahkan dan memaparkan risalah kebijakan (policy brief) bertajuk Pengarusutamaan Kerangka Akuakultur Berkelanjutan (Sustainable Aquaculture Framework-SAF) untuk Mendukung Implementasi Ekonomi Biru di Indonesia, pada (28/7).
“Produksi dan perlindungan lingkungan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Dengan pendekatan yang tepat, keduanya dapat berjalan beriringan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir sekaligus memperkuat implementasi Ekonomi Biru Indonesia,” ujar Menteri KKP.
Risalah kebijakan tersebut disusun oleh Institut Teknologi Bandung (ITB), Monash University, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melalui kemitraan RIIM-KONEKSI, program kemitraan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia.
Dokumen ini disiapkan sebagai masukan bagi KKP dalam memperkuat kebijakan akuakultur yang produktif sekaligus berkelanjutan.




