Darilaut – Untuk mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengirim tim ahli untuk mengelola survei pemetaan mikrozonasi dan makroanalisis di Nusa Tenggara Timur.
Gempa bumi dahsyat magnitudo (M) 7,7 mengguncang NTT, pada Sabtu (15/8) pagi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 235 kali aktivitas gempa bumi susulan (aftershocks) hingga Sabtu pukul 14.00 WIB pascagempa tektonik utama di utara Pulau Flores, NTT.
Tim BMKG Pusat bersama 14 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG se-NTT menyisir wilayah Ngada, Nagekeo, dan titik-titik rawan lainnya di Pulau Flores.
Survei mikro-analisis ini bertujuan mengukur jenis tanah dan respons terhadap gempa bumi. BMKG akan langsung menyerahkan hasil analisis lapangan tersebut kepada stakeholder sebagai rujukan teknis utama dalam meletakkan dasar rekonstruksi maupun retrofitting (penguatan) struktur bangunan tahan gempa.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengonfirmasi bahwa BMKG terus memantau pergerakan sesar secara real-time. Berdasarkan histori dan karakteristik wilayah tersebut, proses stabilisasi sesar membutuhkan interval waktu tertentu sebelum aktivitas seismik benar-benar kembali normal.
“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu (15/8).




