Darilaut – Gempa bumi dahsyat magnitude (M) 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8) pagi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 235 kali aktivitas gempa bumi susulan (aftershocks) hingga Sabtu pukul 14.00 WIB pasca gempa tektonik utama di utara Pulau Flores, NTT.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa gempa bumi ini tergolong jenis gempa bumi dangkal yang timbul akibat aktivitas sesar naik busur belakang Flores (Flores Back Arc Thrust).
Secara histori, struktur Flores Back Arc Thrust menyimpan rekam jejak gempa merusak yang panjang, termasuk gempa M7,8 pada kedalaman 28 km yang melanda kawasan tersebut pada tahun 1992.
Bedanya, gempa kali ini berpusat pada kedalaman yang jauh lebih dangkal (15 km), sehingga menimbulkan dampak kerusakan fisik yang relatif berat pada bangunan infrastruktur serta memicu tsunami yang terobservasi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Adapun aktivitas gempa susulan terdistribusi di sebelah utara Pulau Flores dengan kisaran magnitudo M2,5 hingga M6,2. Grafik pemantauan mengindikasikan bahwa tren rekaman gempa susulan saat ini belum mengalami peluruhan yang signifikan.
BMKG terus memantau pergerakan sesar secara real-time. Berdasarkan histori dan karakteristik wilayah tersebut, proses stabilisasi sesar membutuhkan interval waktu tertentu sebelum aktivitas seismik benar-benar kembali normal.




