Darilaut – Tim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih melakukan pengukuran di lokasi setelah gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo (M) 7,7 disusul tsunami di Laut Flores Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8).
Selanjutnya, tim akan menganalisis seluruh hasil survei secara komprehensif dan menyusunnya menjadi kajian teknis pascagempa bumi.
BMKG telah menerjunkan tim teknis ke sejumlah wilayah terdampak bencana pascagempa bumi M 7,7 yang mengguncang kawasan Flores untuk memverifikasi data makroseismik, mikroseismik, hingga memetakan dampak tsunami.
Langkah tanggap cepat ini mencakup pemantauan aktivitas kegempaan secara intensif, pendataan dampak kerusakan, serta penanganan pascabencana secara menyeluruh.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan pentingnya data lapangan yang akurat untuk menentukan langkah pemulihan wilayah terdampak.
“Kami bergerak cepat berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, BNPB, Kemendagri, serta unsur Forkopimda demi memastikan keselamatan warga dan menyajikan data faktual yang komprehensif,” kata Faisal, Sabtu (22/8).
Tim menerapkan survei mikroseismik dan mengukur karakteristik tanah—termasuk menggunakan metode mikrotremor dan MASW—guna memperoleh informasi mengenai kondisi tanah serta struktur bawah permukaan yang memengaruhi respons wilayah terhadap guncangan gempa bumi.



