Darilaut – Kemarau panjang dan El Niño telah meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau titik panas dan sebaran asap di sejumlah wilayah Indonesia.
Berdasarkan pantauan BMKG melalui citra satelit Himawari-9 pada 23 Agustus 2026, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di Sumatera sebanyak 299 titik, di Kalimantan terdeteksi sebanyak 383 titik, serta di Papua dan Maluku terdeteksi sebanyak 186 titik.
Tidak hanya itu, sebaran asap juga terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Maluku, dan Papua, meliputi Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan. Sebagian sebaran asap juga terbawa pola angin sehingga meluas ke wilayah sekitarnya.
Sejak tanggal 1 hingga 23 Agustus jumlah titik panas di Kalimantan Timur lebih dari 13 ribu. BMKG menyebutkan bahwa sebaran asap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Timur (Kaltim) umumnya bergerak ke arah barat laut menuju timur laut hingga melewati batas administratif ke Kalimantan Utara dan Sabah, Malaysia.
Direktorat Meteorologi Publik BMKG mengatakan untuk perkembangan kondisi iklim terkini, pengaruh El Niño kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif masih menjadi faktor utama yang mendukung kondisi kering di sebagian besar wilayah Indonesia.




