Hal ini sejalan dengan hasil analisis untuk dasarian II Agustus 2026, dimana kondisi kemarau semakin meluas, yang meliputi 79,9% wilayah Indonesia (559 ZOM), dengan sebagian besar wilayah mengalami curah hujan rendah dan sifat hujan dibawah normal.
Berkurangnya curah hujan tersebut turut meningkatkan kerentanan terhadap kekeringan serta kejadian kebakaran hutan dan lahan di sejumlah provinsi.
Namun demikian, kondisi atmosfer tidak sepenuhnya kering dan potensi hujan masih tetap ada, terutama di wilayah Sumatra bagian utara hingga tengah. Pada periode 20-23 Agustus 2026, curah hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat tercatat di Sumatera Barat (125 mm/hari), Sumatera Utara (97 mm/hari), dan Aceh (88 mm/hari).
Kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi dinamika atmosfer regional dan faktor lokal, seperti aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) spasial yang aktif di sebagian wilayah pesisir utara Aceh, terbentuknya daerah belokan dan pertemuan angin, serta suhu muka laut yang relatif hangat di perairan barat dan utara Sumatra, sehingga mendukung peningkatan suplai uap air.
Selain itu, faktor lokal berupa pemanasan permukaan, topografi, dan interaksi angin darat-laut turut mendukung proses pengangkatan massa udara dan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.




