Darilaut – Kebakaran hutan dan lahan banyak terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, seperti di Pulau Sulawesi mencakup Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat dan Gorontalo.
Kebakaran di musim kemarau disertai dengan El nino yang menguat, diawali dengan kekeringan yang menyulitkan sumber air bersih di sejumlah wilayah. Namun, catatan kebakaran ini bukan hanya terjadi saat vegetasi kering di musim kemarau, terdapat pula kejadian kebakaran hutan dan lahan saat musim hujan.
Kekeringan dan rentetan kebakaran telah menjadi siklus dengan rangkaian kejadian yang berulang-ulang setiap tahun di sejumlah wilayah. Keanekaragaman hayati, plasma nutfah, satwa liar, serta flora dan fauna lainnya hangus terbakar.
Api yang membakar vegetasi merusak habitat ruang hidup satwa, sumber makanan musnah, serta dapat memicu ancaman lain berikutnya seperti banjir dan berkurangnya mata pencaharian penduduk lokal yang bergantung pada sistem kehidupan hutan dan lahan.
Darilaut.id menyelisik kebakaran hutan dan lahan di berbagai tempat di Pulau Sulawesi Januari hingga Agustus 2026 dan tahun-tahun sebelumnya.
SULAWESI SELATAN
Dalam situs SiPongi yang menyajikan informasi hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla), di Provinsi Sulawesi Selatan, data yang telah diinput hingga Juni 2026 dengan luas areal yang terbakar 1.489,50 hektare.




