Darilaut – Panas ekstrem semakin membahayakan kesehatan ibu, janin, dan bayi baru lahir jika tidak ada tindakan lebih lanjut.
Kehamilan dan persalinan telah menjadi “garis retak baru dalam krisis iklim global” seiring memburuknya suhu panas ekstrem.
Melansir UN News Badan Aksi iIklim PBB (UNFCCC) menyampaikan peringatan ini pada hari Senin (5/10) dan menyerukan agar kesehatan ibu dan bayi baru lahir dimasukkan ke dalam rencana iklim negara.
Berbicara di Fiji dalam acara yang diselenggarakan oleh yayasan amal global Wellcome—menjelang konferensi iklim COP31 di Antalya— Sekretaris Eksekutif Perubahan Iklim PBB Simon Stiell mengatakan bahwa ujian mendalam bagi aksi iklim sebenarnya “jauh, jauh lebih sederhana” daripada sekadar angka derajat suhu, target, dan pendanaan: yaitu “apakah kita melindungi kehidupan pada saat yang paling rentan”.
“Meningkatnya suhu berarti meningkatnya bahaya dalam kehamilan,” ujarnya pada hari pertama pertemuan tingkat menteri pra-COP.
Ia mencatat bahwa panas ekstrem selama kehamilan semakin sering dikaitkan dengan kelahiran prematur, lahir mati (stillbirth), berat badan lahir rendah, dan komplikasi pada ibu.
Alarm Peringatan
Stiell mengutip data baru yang dirilis pada hari Senin, yang berasal dari survei pesanan Wellcome terhadap para profesional kesehatan ibu di lima negara yang tersebar di lima benua.



