Darilaut – Presiden Filipina Ferdinand R. Marcos Jr. telah mengeluarkan maklumat (Proklamasi) 728 berkaitan dengan topan Trami.
Isi pengumuman, pada tanggal 4 November sebagai Hari Berkabung Nasional, untuk mengenang nyawa yang hilang selama serangan Badai Tropis Parah Trami dengan nama lokal Filipina “Kristine”.
Sejak 21 hingga 25 Oktober, Trami membawa hujan lebat dan angin kencang yang memicu banjir dan tanah longsor yang meluas di Filipina.
Bencana terburuk di Filipina ini telah menewaskan sedikitnya 145 orang. Beberapa lainnya terluka dan beberapa orang hilang.
Melansir kantor berita Filipina, PNA, bendera nasional akan dikibarkan setengah tiang dari matahari terbit hingga terbenam di semua gedung dan instalasi pemerintah di seluruh negeri dan luar negeri pada hari Senin, 4 November, sesuai dengan Undang-Undang Republik (RA) 8941 dan setelah penerbitan Proklamasi 728.
Menurut RA 8491 atau Bendera dan Kode Heraldik Filipina, Bendera Filipina harus dikibarkan setengah tiang di semua bangunan dan tempat di mana bendera itu ditampilkan sebagai tanda berkabung selama tragedi yang penting secara nasional, seperti yang diperintahkan oleh Kantor Presiden.
Maklumat itu dikeluarkan “dalam solidaritas dengan keluarga yang berduka dan orang-orang yang dicintai dari mereka yang tewas karena kehancuran yang dibawa oleh Badai Tropis Parah Kristine.”
“Bangsa ini sangat berduka atas kehilangan tragis ini, dan bergabung dengan keluarga dan orang-orang yang dicintai dari saudara-saudari kita yang telah meninggal dalam momen kesedihan yang luar biasa ini,” kata Presiden dalam proklamasi itu.
Presiden meminta untuk berdoa bagi mereka yang kehilangan nyawa dalam tragedi itu.
Selain lebih dari 100 orang tewas, serangan Trami menyebabkan kerusakan properti yang luar biasa, termasuk kerusakan besar pada pertanian dan infrastruktur penting. Selain itu, gangguan mata pencaharian dan cara hidup normal masyarakat, terutama di daerah yang terkena dampak.
Topan Trami dan Topan Kong-rey memengaruhi 2.179.856 keluarga atau 8.534.215 orang.
