474 Orang Tewas Akibat Banjir Dahsyat Himalaya di Perbatasan Nepal-Tibet, 1.500 Hilang

Bangunan-bangunan terendam lumpur akibat banjir bandang di distrik Rasuwa, Nepal bagian tengah-utara. FOTO: UNICEF/UN

Darilaut – Korban meninggal dunia akibat banjir dahsyat Himalaya dan tanah longsor di perbatasan Nepal dan Tibet-Cina bertambah menjadi 474 orang, sementara 1.500 orang hilang. Hingga Jumat (28/8) tim penyelamat masih melakukan pencarian dan evakuasi warga ke tempat yang aman.

Melansir The Associated Press Otoritas (AP) otoritas Nepal menyatakan jumlah korban tewas di wilayahnya meningkat menjadi 469 orang; korban luka telah dilarikan ke rumah sakit dan helikopter telah mengevakuasi lebih dari 3.000 orang ke tempat aman.

Di Cina, Xinhua melaporkan, hingga Jumat sore, 5 orang tewas dan 558 hilang setelah tanah longsor melanda pos lintas batas di wilayah Xizang –dikenal dengan Tibet.

Melansir Al Jazeera, banjir dahsyat Bhotekoshi melanda wilayah pegunungan di perbatasan Nepal-Tibet, dengan kerusakan terparah terjadi di distrik Rasuwa, Nepal, yang terletak tepat di sebelah selatan perbatasan Cina.

Lebih dari 1.500 orang dilaporkan hilang di Nepal dan wilayah Tibet. Selain warga negara Nepal, Departemen Pariwisata Nepal menyatakan pada Kamis malam bahwa 668 wisatawan dari 34 negara telah kehilangan kontak sejak Rabu pagi; sebagian besar dari mereka sedang melakukan ekspedisi pendakian.

Di antara mereka, setidaknya 177 orang berasal dari India, 90 dari Amerika Serikat, 34 dari Australia, 33 dari Inggris, dan 25 dari Kanada. Kementerian Luar Negeri Cina juga menyatakan bahwa 100 warga negara Cina termasuk di antara mereka yang hilang di Nepal.

Dampak Terhadap Anak

Kehancuran menyelimuti setelah bencana banjir dahsyat dan tanah longsor Himalaya di Nepal dan Tibet, Cina. Ratusan orang masih dinyatakan hilang di Nepal dan Tibet.

Banjir bandang dahsyat telah menyapu bersih dan memutus akses ke berbagai wilayah permukiman; jalan, jembatan, fasilitas pembangkit listrik tenaga air, sistem air, dan jaringan telekomunikasi mengalami kerusakan parah.

Hal ini menyebabkan wilayah terdampak sulit dijangkau dan menghambat penyaluran bantuan penyelamat jiwa, demikian disampaikan oleh Dana Anak-anak PBB (UNICEF) pada hari Kamis.

Setidaknya 17.000 anak terdampak oleh banjir bandang dahsyat yang menerjang distrik Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading di Nepal.

“Anak-anak di seluruh wilayah Rasuwa dan Dhading menyaksikan kehidupan mereka seolah hanyut begitu saja di depan mata dalam waktu yang sangat singkat, dengan rusaknya rumah, ruang kelas, dan fasilitas medis,” kata Alice Akunga, Perwakilan UNICEF untuk Nepal, seperti dikutip dari UN  News.

“Terlalu banyak yang kehilangan nyawa dan orang-orang terkasih. Dengan jumlah korban jiwa yang terus bertambah, kita tahu tragedi ini masih jauh dari kata usai. Anak-anak yang selamat dari banjir kini menghadapi risiko penyakit, malnutrisi, kekerasan, dan eksploitasi yang lebih tinggi.”

Sumber: The Associated Press (AP), Xinhua, Aljazeera.com dan UN News

Exit mobile version