Darilaut – Organisasi kemanusiaan memperkirakan sebanyak 5,4 juta orang berada di jalur lintasan Topan Mocha yang mendarat di Myanmar dan perbatasan Bangladesh, pada Minggu (14/5).
Kerusakan akibat badai siklon super (Super Cyclonic Storm) Mocha tersebut meluas di Myanmar dan Bangladesh.
Topan Mocha menjadi salah satu yang terkuat yang pernah melanda Myanmar. Sittwe, ibu kota negara bagian Rakhine, sangat terpukul dengan badai ini.
Badai bergerak ke daratan, membawa angin, hujan lebat, dan menyebabkan banjir di negara bagian dan wilayah lain di barat laut, tempat lebih dari satu juta orang telah mengungsi akibat konflik.
Mengutip Unocha.org Selasa (16/5) Koordinator Residen dan Kemanusiaan, Ramanathan Balakrishnan, mengatakan kepada wartawan meskipun belum memiliki gambaran lengkap tentang kerusakan, 5,4 juta orang diperkirakan berada di jalur topan di Rakhine dan di barat laut.
Balakrishnan juga mengatakan bahwa kita sedang menghadapi skenario mimpi buruk, karena orang-orang di daerah bencana sudah menghadapi kebutuhan kemanusiaan yang tinggi.
Perawatan kesehatan, barang-barang bantuan, tempat berlindung, dan dukungan air, sanitasi dan kebersihan adalah prioritas utama. Hal ini mengingat tingginya risiko penyakit yang ditularkan melalui air dan penyakit menular.
Kami berharap tim kemanusiaan mendapatkan akses yang mereka butuhkan untuk mulai menilai kebutuhan sesegera mungkin, kata Balakrishnan.
Untuk mengirimkan bantuan, menurut Balakrishnan, memerlukan akses ke orang-orang yang terkena dampak topan, serta otorisasi perjalanan yang dipercepat dan izin bea cukai untuk persediaan.
Kami juga akan membutuhkan infus dana besar-besaran. Rencana Tanggap Kemanusiaan senilai US$764 juta didanai kurang dari 10 persen.
Sebelum Topan Mocha menghantam Myanmar, sekitar 17,6 juta orang sudah membutuhkan bantuan
