Dampak paling fatal dan kerusakan terparah, menurut BNPB, terkonsentrasi di tiga wilayah utama, yaitu Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Di Kabupaten Tapanuli Selatan, tercatat 46 korban meninggal dan 52 orang hilang, sementara Kota Sibolga mencatat 46 meninggal dan 33 orang hilang.

Situasi kritis juga terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah yang melaporkan 35 korban jiwa dan 54 orang hilang. Di wilayah Tapanuli Tengah ini, akses jalan antar-kabupaten/kota terputus total, disertai padamnya aliran listrik dan gangguan jaringan telekomunikasi yang menghambat koordinasi lapangan.
Selain tiga wilayah tersebut, dampak bencana juga meluas ke berbagai kabupaten dan kota lainnya. Kabupaten Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan turut melaporkan adanya korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang signifikan, termasuk rumah yang hanyut dan jembatan yang rusak. Di wilayah pesisir timur dan perkotaan seperti Kota Medan, Kota Binjai, dan Tebing Tinggi, banjir merendam ribuan rumah dan berdampak pada puluhan ribu jiwa, meskipun fokus utama penanganan korban jiwa saat ini berada di wilayah pantai barat Sumatera Utara yang terdampak longsor dan banjir bandang.
Wilayah Kabupaten Asahan mengalami genangan yang berkembang menjadi banjir. Akibat banjir, sebanyak 242 kepala keluarga atau 453 jiwa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.




