582 Orang Tewas dan Hilang Akibat Badai Senyar di Aceh, Sumut dan Sumbar

Badai siklon (cyclonic storm) 04B atau siklon tropis Senyar mendarat di dekat Langsa, Aceh, pada Rabu (26/11). GAMBAR: ZOOM.EARTH

Darilaut – Jumlah korban meninggal dunia dan hilang akibat Badai siklon (cyclonic storm) Senyar di Provinsi Sumatra Utara (Sumut), Sumatra Barat (Sumbar) dan Aceh bertambah menjadi 582 orang.

Saat ini, sisa badai siklon atau siklon tropis Senyar (34W) terletak di tenggara Kota Ho Chi Minh, Vietnam, pada Senin (1/12). Tinggi gelombang signifikan maksimum adalah 3 meter (10 kaki).

34W terletak 556 km di tenggara Kota Ho Chi Minh, dan telah bergerak ke arah timur laut dengan kecepatan 19 km per jam (10 knot) selama 6 jam terakhir, kata Pusat Peringatan Topan Gabungan (JTWC).

Meski telah melemah dibawah kekuatan siklon tropis, JTWC akan terus memantau secara ketat sistem ini untuk melihat tanda-tanda regenerasi.

Menurut JTWC kisah Senyar yang kini disebut 34W di Laut Cina Selatan menakjubkan dan belum pernah terjadi sebelumnya.

BMKG mengatakan siklon tropis Senyar yang mendarat di Aceh dan Sumatra Utara pada Rabu (26/11) tergolong tidak umum atau jarang terjadi di Selat Malaka. Indonesia memang berada dekat garis ekuator yang secara teori kurang mendukung terbentuknya atau dilintasi siklon tropis.

Trek Senyar

Catatan Darilaut.id  Senyar berkembang dari bibit Siklon Tropis 95B di Selat Malaka pada minggu ke-3 bulan November. Pada Minggu (23/11) bibit 95B terletak di timur laut Lhokseumawe, Aceh, atau selatan Phuket, Thailand.

Bibit ini terus menguat dan terbentuk badai tropis yang disebut Senyar (04B) di dekat Langsa atau Aceh Timur, Selat Malaka, pada Rabu (26/11). Selanjutnya, badai 04B bergerak ke barat menuju daratan Provinsi Aceh dan mendarat di dekat Langsa membawa hujan sangat lebat dan angin kencang.

Setelah mendarat, badai Senyar mempertahankan kekuatannya saat melintasi Aceh dan Sumut, pada Rabu malam. Trek lintasan badai Senyar berbelok ke selatan dan tenggara melintasi daratan Sumut.

Setelah berada di Kota Medan, Senyar yang masih mempertahankan kekuatan sebagai badai bergerak ke timur dan kembali melintasi Selat Malaka.

Perjalanan semalam badai Senyar di lintasan jalur Aceh dan Sumut meninggalkan jejak kehancuran yang sangat dahsyat di Sumut, Aceh dan Sumbar. Sejumlah wilayah diterjang banjir dan tanah longsor akibat cuaca ekstrem yang dibawa badai Senyar.

Di Selat Malaka, sebelum mendarat di pantai barat Malaysia, Senyar telah melemah menjadi depresi tropis (tropical depression). Senyar untuk kedua kalinya mendarat di pantai barat Malaysia, pada Kamis (27/11) sore.

Pelemahan Senyar terus terjadi saat melintasi daratan Malaysia dan menjadi area bertekanan rendah.

Meski sudah melemah Senyar belum punah. Sistem bertekanan rendah terus bergerak ke timur dan kembali ke laut.

Senyar meregenerasi di timur Malaysia atau di dekat Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, pada Sabtu (29/11) dan menguat menjadi depresi tropis.

3 Provinsi Luluh Lantak

Perjalanan Senyar dari Aceh ke Sumut telah meluluhlantakan berbagai infrastruktur publik, bangunan rumah rusak berat, jalanan, merusak perkebunan dan pertanian. Hujan sangat lebat yang menyebabkan banjir membawa berbagai material dari dalam hutan seperti gelondongan kayu utuh dan tidak utuh, mengikuti aliran banjir.

Banjir menghantam dan merendam belasan ribu rumah dan pemukiman. Bentang alam aliran Sungai ada yang berpindah. Berbagai material sampah, terutama sampah plastik, terbawa hingga ke pesisir dan laut.

Bencana hidrometeorologi dan ekologi ini telah merusak dari topografi dataran tinggi hingga pesisir, berbagai infrastruktur jembatan, jalan raya, bendungan, kerugian harta benda penduduk, serta kerusakan lingkungan yang sangat parah.

Provinsi Aceh

Hingga Sabtu (29/11) pukul 17.40 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)  mencatat sebanyak 47 korban meninggal dunia, 51 orang dinyatakan hilang, dan 8 orang mengalami luka-luka di Provinsi Aceh.

Jalan yang rusak karena bencana hidrometeorologi di Aceh. FOTO: BPBA ACEH

Jumlah korban terbanyak meliputi Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tenggara, dan Aceh Tengah, dengan sebaran korban meninggal juga ditemukan di Pidie Jaya, Bireun, Gayo Lues, Subulussalam, hingga Lhokseumawe.

Dampak kerusakan infrastruktur dan gelombang pengungsian yang masif terjadi di berbagai titik vital.

Menurut BNPB, Kabupaten Aceh Utara menjadi wilayah dengan dampak pengungsian terbesar. Banjir yang melanda 19 kecamatan telah memaksa lebih dari 44.350 jiwa untuk mengungsi serta merendam belasan ribu unit rumah.

Sementara itu, Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah menghadapi situasi kritis akibat kombinasi banjir dan longsor yang masing-masing merenggut 16 nyawa. Di sisi lain, Kabupaten Aceh Tenggara mencatat angka orang hilang yang cukup tinggi, yakni sebanyak 25 orang yang masih dalam pencarian.

Gubernur Aceh H. Muzakir Manaf menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi tahun 2025. Hal ini sesuai dengan surat keputusan Gubernur Aceh Nomor 100.3.3/1416/2025 tentang Penetapan Status keadaan tanggap darurat bencana hidrometeorologi di Aceh Tahun 2025.

Status darurat ditetapkan untuk 14 hari, berlaku sejak 28 November hingga 11 Desember 2025.

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyampaikan telah menerima surat dari Bupati/ walikota tentang penetapan status siaga darurat bencana hidrometeorologi atau bencana banjir untuk 14 (empat belas) Kabupaten/Kota.

Penetapan status darurat ini sebagai upaya mempercepat penanganan bencana banjir menyusul tingginya intensitas hujan yang melanda kawasan itu hingga saat ini.

Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Fadmi Ridwan, mengatakan penetapan status dikeluarkan oleh masing-masing kepala daerah berdasarkan kondisi terkini.

Ada 14 kabupaten/kota yang telah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi yaitu Pidie, Lhokseumawe, Aceh Tamiang, Subulussalam, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Singkil, Aceh Selatan, Gayo Lues, Aceh Barat, Aceh Tenggara, Aceh Tengah, Aceh Utara dan Aceh Barat Daya.

Sementara itu dari 14 Kabupaten/Kota yang berstatus siaga darurat, terdapat 4 kabupaten/kota yang sudah mengirimkan surat ketidaksanggupan dalam rangka penanganan bencana darurat bencana yaitu, Kabupaten Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Kota Lhokseumawe.

Untuk 4 kabupaten tersebut sudah menyatakan ketidaksanggupan dalam rangka penanganan bencana darurat bencana. Mengingat besarnya dampak yang ditimbulkan sehingga terbatasnya kemampuan daerah dalam ketersedian logistik, peralatan, sumber daya dan anggaran, kata Fadmi.

Provinsi Sumatra Utara

Di Sumut, bencana hidrometeorologi telah menelan korban jiwa sebanyak 166 orang meninggal dunia. Selain itu, upaya pencarian masih terus dilakukan secara intensif mengingat sebanyak 143 orang masih dinyatakan hilang.

Ribuan warga terpaksa mengungsi di berbagai titik pengungsian karena rumah mereka rusak berat atau terendam banjir, serta akses wilayah yang terputus.

Dampak paling fatal dan kerusakan terparah, menurut BNPB, terkonsentrasi di tiga wilayah utama, yaitu Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Di Kabupaten Tapanuli Selatan, tercatat 46 korban meninggal dan 52 orang hilang, sementara Kota Sibolga mencatat 46 meninggal dan 33 orang hilang.

Alat berat berupaya membersihkan material longsor yang dipicu oleh cuaca ekstrem di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, pada Kamis (27/11). FOTO: BPBD Kabupaten Humbang Hasundutan/BNPB

Situasi kritis juga terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah yang melaporkan 35 korban jiwa dan 54 orang hilang. Di wilayah Tapanuli Tengah ini, akses jalan antar-kabupaten/kota terputus total, disertai padamnya aliran listrik dan gangguan jaringan telekomunikasi yang menghambat koordinasi lapangan.

Selain tiga wilayah tersebut, dampak bencana juga meluas ke berbagai kabupaten dan kota lainnya. Kabupaten Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan turut melaporkan adanya korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang signifikan, termasuk rumah yang hanyut dan jembatan yang rusak. Di wilayah pesisir timur dan perkotaan seperti Kota Medan, Kota Binjai, dan Tebing Tinggi, banjir merendam ribuan rumah dan berdampak pada puluhan ribu jiwa, meskipun fokus utama penanganan korban jiwa saat ini berada di wilayah pantai barat Sumatera Utara yang terdampak longsor dan banjir bandang.

Wilayah Kabupaten Asahan mengalami genangan yang berkembang menjadi banjir. Akibat banjir, sebanyak 242 kepala keluarga atau 453 jiwa mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Untuk memperkuat langkah respons, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah menetapkan Status Tanggap Darurat berdasarkan Keputusan Gubernur Sumatera Utara Nomor 188.44.836/KPTS/2025. Status ini berlaku selama 14 hari, mulai 27 November hingga 10 Desember 2025, dan dapat diperpanjang sesuai situasi perkembangan bencana di provinsi tersebut.

Provinsi Sumatra Barat

Korban meninggal dunia di Sumbar telah mencapai 90 jiwa, sementara 85 orang masih dinyatakan hilang, dan 10 orang mengalami luka-luka.

BNPB mengatakan eskalasi bencana ini menuntut perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan, mengingat luasnya wilayah yang terdampak dan tingginya angka korban yang masih dalam pencarian.

Kabupaten Agam menjadi wilayah dengan dampak paling parah dan mencatatkan jumlah korban tertinggi, yakni 74 orang meninggal dunia dan 78 orang dinyatakan hilang.

Pencarian korban oleh BPBD, Sapol PP dan polisi pascabencana galodo di salareh aia dan nagari Salareh Aia timur, Kabupaten Agam, Sumbar beberapa waktu lalu. FOTO: BPBD Kabupaten Agam/BNPB

Selain Agam, sebaran korban jiwa juga terjadi di beberapa wilayah lain seperti Kota Padang Panjang dengan 7 korban meninggal, Kota Padang dengan 5 korban meninggal, serta korban jiwa yang tersebar di Kabupaten Tanah Datar, Pasaman Barat, Kota Solok, hingga Kepulauan Mentawai. Bencana ini memukul rata berbagai topografi wilayah di Sumatera Barat, mulai dari kawasan pesisir hingga dataran tinggi.

Menurut BNPB, di sektor infrastruktur dan sosial, kerusakan yang ditimbulkan sangat masif. Kabupaten Pesisir Selatan mengalami kerugian material terbesar dengan 11.650 unit rumah terendam banjir dan hampir 50.000 jiwa terdampak.

Gelombang pengungsian besar juga terjadi di Kota Padang, di mana lebih dari 18.000 jiwa terpaksa meninggalkan rumah mereka. Sementara itu, Kabupaten Padang Pariaman menghadapi kerusakan infrastruktur vital yang parah akibat kombinasi banjir dan longsor, yang merusak jembatan, jalan raya, bendungan, hingga lahan pertanian, sehingga menghambat akses dan mobilitas warga. (Verrianto Madjowa)

Exit mobile version