Ummul mengatakan nelayan yang dilibatkan juga diberikan buku panduan yang didalamnya berisi materi tentang bagaimana tata cara melakukan survei, jenis-jenis lamun serta fungsi dan manfaatnya, begitu pula dengan hutan mangrove.
Pembekalan dilakukan pada tanggal 3 Agustus, survei padang lamun dilaksanakan pada tanggal 4 agustus, dan pendataan mangrove diselenggarakan pada tanggal 5 Agustus. Identifikasi lamun dan mangrove dilakukan di tiga tempat, yakni ”di wilayah Bonda, Torosiaje Besar, dan Torosiaje Kecil,” kata Ummul.
Pengambilan sampel dilakukan di tiga stasiun yang telah terpasang di wilayah padang lamun Bonda, Torosiaje Besar, dan Torosiaje Kecil. Setiap stasiun memiliki panjang 100 meter dengan lima transek didalamnya. Pemasangan transek dimulai pada bibir pantai hingga menuju laut lepas.
Setiap transek memiliki jarak 50 meter. Dalam satu transek dipasangi kuadran yang terbuat dari pipa berbentuk kotak sebanyak 11. Masing-masing kuadran berjarak 10 meter.
Selain itu, dilakukan pula pengukuran kualitas perairan dengan cara mengambil sampel air di setiap stasiun. Parameter kualitas perairan yang diukur meliputi salinitas, suhu dan Potential Hydrogen (pH).
“Identifikasi lamun dilakukan pada tiga transek, begitu pula dengan invertebrata. Semetara identifikasi spesies ikan dilakukan di lima transek,” ujarnya.




