“Penggunaan teknologi pencocokan data (data matching) sifatnya mutlak dan tidak bisa mengandalkan tenaga manusia secara manual,” kata Bigi.
Untuk jurnalistik, skalanya diperkirakan lebih rumit. Bigi mengatakan satu perintah kepada AI generatif dapat membuat sistem mengakses atau crawl ratusan karya jurnalistik dalam hitungan detik.
Masalah lain muncul ketika satu karya memiliki lebih dari satu pemilik hak. Dalam industri musik, misalnya, terdapat pencipta, penampil, dan produser atau label. Industri jurnalistik juga harus menentukan dengan jelas siapa yang berhak menerima royalti ketika sebuah berita digunakan platform.
Pertanyaan mengenai cara menghitung nilai penggunaan berita kemudian muncul. Badan Pertimbangan Dan Pengawas Organisasi AMSI, Wenseslaus Manggut, mempertanyakan kemungkinan menerapkan sistem pembayaran borongan. Sebab, sebuah media besar dapat menghasilkan ratusan berita setiap hari.
“Di jurnalistik, satu media besar bisa memproduksi 500 berita per hari, 15.000 per bulan. Bisakah dikontrak gelondongan per bulan dibanding dihitung satu per satu?” kata Wens.
Menurut kata Wens, persoalan jurnalistik juga lebih kompleks karena nilai sebuah berita tidak hanya ditentukan oleh berapa kali karya tersebut digunakan. Ada traffic, engagement, share, dan like yang ikut membentuk nilai ekonominya.




