”Jika praktisi kesehatan dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang akurat, hal ini bisa menjadi penentu antara hilangnya nyawa atau penyelamatan nyawa,” ujarnya.
Suhu yang lebih hangat dan perubahan pola curah hujan dapat meningkatkan penyebaran penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, seperti malaria, demam berdarah, chikungunya, demam kuning, dan Zika.
Di beberapa daerah, penyakit-penyakit ini mungkin menyebar ke wilayah yang sebelumnya tidak pernah terdampak, termasuk daerah dataran tinggi.
Malnutrisi dan kolera termasuk dalam masalah yang paling serius dan dinilai sebagai risiko sangat tinggi, baik di wilayah yang terdampak kekeringan maupun banjir.
Saat ini, lebih dari 150 juta orang di seluruh dunia menghadapi kerawanan pangan akut. Angka ini diperkirakan akan meningkat seiring dengan gangguan terhadap produksi pangan dan mata pencaharian akibat guncangan iklim.
Kepala Unit Pengurangan Risiko, Operasi Kemanusiaan, dan Perubahan Iklim di WHO, Teresa Zakaria, mengatakan, El Niño merupakan ancaman kesehatan masyarakat yang signifikan, bukan sekadar fenomena iklim.
Fenomena ini bertindak sebagai faktor pengganda risiko, dan kita memperkirakan akan melihat dampaknya terhadap kesehatan di seluruh dunia.
”Namun, dampak paling parah akan dirasakan di wilayah di mana guncangan iklim terjadi bersamaan dengan sistem kesehatan yang lemah, akses layanan kesehatan yang terbatas, kerawanan pangan, pengungsian, serta krisis kemanusiaan,” ujarnya.




