Api Menghanguskan Zamrud Khatulistiwa Kepulauan Nusantara

Konveksi dan curah hujan yang meningkat terus terjadi dari Pasifik tengah hingga timur, sementara anomali tetap tertekan di wilayah Indonesia. GAMBAR: NOAA

Darilaut – Zamrud sebutan untuk salah satu batu permata yang khas berwarna hijau. Varietas mineral grup beryl ini memiliki harga jauh di atas permata lainnya.

Zamrud dalam tulisan ini seperti dalam lagu yang dibawakan Chrisye “Zamrud Khatulistiwa”. Lirik lagu ini diciptakan Guruh Sukarno Putra.

“Zamrud Khatulistiwa” menggambarkan alam yang indah dengan hamparan permadani hijau di khatulistiwa.

S’lalu berseri alam indah permai

Di khatulistiwa persada senyum

Tawa hawa sejuk nyaman

Wajah pagi rupawan burung

Berkicau ria bermandi embun surga

Kini, alam indah permai di khatulistiwa tak lagi ramah. Kebakaran masif dan dahsyat terjadi di hutan dan lahan di berbagai wilayah di Indonesia.

Asap mencekik. Kekeringan dan rentetan kebakaran telah menjadi siklus dengan rangkaian kejadian yang berulang-ulang setiap tahun di sejumlah wilayah. Keanekaragaman hayati, plasma nutfah, satwa liar, serta flora dan fauna lainnya hangus terbakar. Burung-burung tak lagi berkicau ria.

Visualisasi didasarkan pada data Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) dan dibuat menggunakan aplikasi Fire Emissions Watch, memperlihatkan sebaran asap di wilayah Indonesia, Malaysia, dan sekitarnya pada tanggal 25 Agustus 2026. Area berwarna ungu lebih pekat menunjukkan lokasi dengan konsentrasi asap yang lebih tinggi di atmosfer. GAMBAR: European Union, Copernicus Atmosphere Monitoring Service Data

Copernicus, komponen Pengamatan Bumi dalam program antariksa Uni Eropa bertujuan memantau lingkungan, menampilkan sebaran asap kebakaran di Sumatra, Kalimantan dan Papua. Asap telah menyebar ke wilayah sekitarnya di  Asia Tenggara, termasuk negara tetangga Malaysia dan Singapura.

Visualisasi didasarkan pada data Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) dan dibuat menggunakan aplikasi Fire Emissions Watch. Melalui visualisasi ini memperlihatkan sebaran asap di wilayah Indonesia, Malaysia, dan sekitarnya pada tanggal 25 Agustus 2026.

Api yang membakar vegetasi merusak habitat ruang hidup satwa, sumber makanan musnah, serta dapat memicu ancaman lain berikutnya seperti banjir dan berkurangnya mata pencaharian penduduk lokal yang bergantung pada sistem kehidupan hutan dan lahan.

Bulan Agustus 2026, tercatat terpanas dalam sejarah. Suhu permukaan laut global mencapai rekor tertinggi yang pernah diamati pada bulan Agustus.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan kondisi El Niño telah memicu rekor suhu di wilayah luas Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur.

Namun, kondisi El Niño ini belum mencapai puncaknya di bulan Agustus, saat api membakar banyak tempat di hutan dan lahan di Kepulauan Nusantara.

Dampak besar berbeda-beda, seperti pola curah hujan dan suhu, serta risiko terkait banjir, kekeringan, dan panas ekstrem.

Citra satelit yang memperlihatkan perbedaan dari suhu permukaan laut rata-rata di garis khatulistiwa wilayah Samudra Pasifik tropis (gradasi warna merah dan oranye menunjukkan kondisi lebih hangat) di minggu pertama bulan Juni 2026. GAMBAR: NOAA

WMO, badan otoritatif di PBB yang menangani masalah cuaca, iklim, dan air, menyebutkan bahwa El Niño yang membawa kekeringan di Indonesia masih akan menjadi peristiwa yang sangat kuat. Kondisi El Niño memicu intensifikasi kebakaran hutan di seluruh Indonesia.

Kebakaran di Indonesia meningkat seiring dampak asap terutama terjadi di Pulau Kalimantan dan Sumatra yang menimbulkan polusi dan menyebabkan penutupan sekolah dan dampak regional lainnya yang juga dirasakan oleh Singapura dan Malaysia.

Kebakaran musiman yang intens mulai terjadi di Indonesia pada akhir Juli dan minggu-minggu pertama bulan Agustus. Vegetasi kering yang terbakar umum terjadi selama musim kemarau di Indonesia antara akhir Juli hingga akhir Oktober.

Tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun dengan intensitas kebakaran yang tinggi, sebagaimana yang diperkirakan terjadi saat adanya fase positif El Niño-Southern Oscillation (ENSO) yang kuat di wilayah Pasifik khatulistiwa.

Kebakaran Berkepanjangan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan lagi peristiwa musiman. Bukan hanya terjadi saat musim kemarau yang membawa kekeringan dan membakar vegetasi yang kering.

Di musim penghujan, saat sejumlah wilayah menghadapi hujan deras disusul dengan banjir, kabakaran hutan lahan terjadi di beberapa daerah.

Darilaut.id telah menyelisik kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sepanjang bulan berjalan. Kebakaran berkepanjangan ini, sudah terjadi di awal tahun 2026.

Peta titik panas Indonesia. GAMBAR: HOTSPOT BRIN

Pada periode 1 hingga 16 Januari 2026, telah terjadi kebakaran hutan dengan rincian 3 hektar di Kota Dumai dan 0,25 hektar di Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Total luas lahan terbakar mencapai 3,25 hektar.

Kebakaran hutan dan lahan di Gampong Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, pada Kamis 15 Januari. Luas lahan terbakar 1,5 hektare.

Peristiwa kebakaran hutan dan lahan melanda Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatra Utara, pada Senin 26 Januari. Kebakaran terjadi di Desa Sikapas, Kecamatan Muara Batang dengan luas lahan terbakar mencapai 30 hektare.

Kejadian kebakaran hutan dan lahan terjadi di Desa Baliara dan Desa Jonokalora, Kecamatan Parigi Barat, Kabupaten Parigi Mouting, Provinsi Sulawesi Tengah, pada Sabtu 31 Januari.

Bulan Februari,  kebakaran lahan perkebunan seluas 30 hektar di Kabupaten Aceh Singkil. Di Riau, Januari hingga 17 Februari kebakaran hutan dan lahan tersebar di sembilan kabupaten dan dua kota.

Begitu pula di Kabupaten Parigi Moutong, kebakaran hutan dan lahan terjadi di akhir Februari.

Di Pulau Kalimantan, kebakaran hutan dan lahan telah melanda beberapa daerah sejak Januari hingga Maret. Kalimantan Tengah, di 11 kabupaten dan satu kota kebakaran hutan dan lahan mencapai 357,69 hektare. 

Sementara itu, di Kalimantan Barat, terjadi kebakaran hutan dan lahan sejak 1 Januari 2026 sampai dengan 27 Maret 2026 dengan total luas lahan terbakar mencapai 671,933 hektare, tersebar di 12 kabupaten dan dua kota.

Di Provinsi Jambi peristiwa banjir merendam pemukiman warga di enam kecamatan di Kabupaten Sarolangun, pada Sabtu 25 April. Dua hari kemudian, Senin 27 April, kebakaran lahan terjadi di Desa Simpang Terusan, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari. Lahan seluas dua hektare terbakar.

Di saat hujan deras disusul banjir saja terjadi kebakaran. Apalagi, di musim kemarau yang disertai dengan peristiwa El Niño.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga telah memprakirakan sebagian besar wilayah di Indonesia akan memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal.

Begitu pula Badan Nasional Penanggulangan  Bencana (BNPB) telah mengingatkan kekeringan yang berpotensi menimbulkan kebakaran hutan dan lahan akibat curah hujan rendah dan kondisi lahan gambut yang mudah terbakar, seperti yang terjadi di wilayah Riau dan Kalimantan.

Peta titik panas Indonesia. GAMBAR: SIPONGI

BNPB mengatakan masyarakat di wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan diminta untuk tidak melakukan pembakaran terbuka serta segera melaporkan kejadian kebakaran kepada petugas setempat agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

Memasuki periode peralihan musim dari penghujan menuju kemarau, kembali BNPB mengimbau berulang-ulang, agar pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi maupun kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia.

Sebagian wilayah di Indonesia masih mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi, sebagian wilayah Indonesia lainnya mulai mengalami cuaca terik dan hari tanpa hujan.

Perkara Kebakaran Hutan

Hingga 15 September 2026, Kementerian Kehutanan RI telah memproses lebih dari 30 perkara kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah di Indonesia.

Dalam situs web Kehutanan.go.id menyebutkan Direktorat Jenderal Penegakan (Gakkum) Kehutanan – Kementerian Kehutanan telah memproses sejumlah kasus kebakaran hutan dan lahan. Total penanganan perkara berjumlah 31 kasus di 10 provinsi.

Luas keseluruhan areal yang terdampak mencapai 3.625 hektare, dengan rincian tahap penyelidikan 22 kasus, penyidikan 7 kasus dan penyerahan ke jaksa 2 kasus.

Detail luasan terdampak di Sumatera Utara dengan luas 17 hektare, 2 perkara (korporasi); Jambi luas 94 hektare, 3 perkara (perorangan); Riau luas 30 hektare, 3 perkara (perorangan); Sumatera Selatan luas 558 hektare, 3 perkara (perorangan, korporasi).

Kemudian di Kalimantan Barat luas 69 hektare, 4 perkara (korporasi, yayasan, dan perorangan); Kalimantan Selatan luas 843 hektare, 3 perkara (korporasi) Kalimantan Tengah luas 1.110 hektare, 6 perkara (korporasi, perorangan); Kalimantan Timur luas 394 hektare, 5 perkara (korporasi, perorangan).

Selanjutnya di Jawa Barat dengan luas 6 hektare, 1 perkara (perorangan); dan Jawa Timur luas 504 hektare, 1 perkara (perorangan).

Pengendalian Kebakaran

Kebakaran hutan di Kepulauan Nusantara bukan baru terjadi tahun-tahun belakangan ini. Sejarah mencatat pulau-pulau di Indonesia yang disatukan oleh laut sudah pernah terjadi kebakaran.

Dalam situs SiPongi yang menyajikan informasi hotspot kebakaran hutan dan lahan di Indonesia  — yang dikelola Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan – Kementerian Kehutanan – menyebutkan sejumlah peraturan yang berkaitan dengan kebakaran hutan di antaranya, Ordonansi Hutan Untuk Jawa dan Madura 1927 (Pasal 20, Ayat 1 dan 2), Provinciale Bosverordening Midden Java (Article 14), Rijkblad – Soerakarta Ongko 11 (1939).

Menurut Communication & Advocacy Coordinator WWF-Indonesia, Diah Sulistiowati, kebakaran hutan dan lahan masih berlanjut pascakemerdekaan RI. Masih tercatat ada lima kejadian besar periode kebakaran hutan yaitu tahun 1982-1983 yang menhancurkan 3,2 juta hektare kerugian mencapai 6 triliun rupiah, tahun 1987 yang melahap 66,000 Ha. Tahun 1991 menghabiskan 500,000 Ha, tahun 1994-1995 yang melumatkan lebih dari 5 juta Ha, dan tahun 1997-1998 (wwf.id/id).

Dalam delapan tahun terakhir, data input indikasi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia di situs SiPongi tahun 2018 dengan luas 529.266,64 hektare, tahun 2019 luas 1.649.258,00 hektare, tahun 2020 luas 296.942,00 hektare, tahun 2021 luas 358.867,00 hektare, tahun 2022 luas 204.894,00 hektare, tahun 2023 luas 1.161.192,90 hektare, tahun 2024 luas 376.805,05 hektare dan tahun 2025 luas 359.619,42 hektare.

Adapun jumlah areal kebakaran hutan dan lahan di Indonesia Januari hingga Juni-Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare. Kondisi areal yang terbakar tersebut mengalami peningkatan sebesar 47% (64.996,88 ha) dibandingkan tahun 2019 dan 80% (109.080,25 hektare) dibandingkan tahun 2023.

Peta titik panas Indonesia. GAMBAR: ZOOM.EARTH

Bulan September 2026, kombinasi minimnya curah hujan dan kondisi atmosfer kering akibat musim kemarau yang diperkuat dengan El Niño memicu sejumlah wilayah mengalami kekeringan serta meningkatkan potensi karhutla yang semakin meluas di berbagai wilayah Indonesia.

Dampak lain yang perlu diwaspadai dari kondisi kering adalah muncul dan meluasnya kabut asap akibat karhutla, khususnya dari kebakaran di kawasan gambut, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Pemantauan BMKG melalui satelit pada 13 September 2026, titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi masih banyak terdeteksi.

Konsentrasi terbanyak terdapat di Kalimantan, yaitu 627 titik, disusul Papua dan Maluku sejumlah 200 titik, Sulawesi 104 titik, serta Sumatra 86 titik.

Kondisi atmosfer yang kering dapat mendukung kebakaran bertahan lebih lama, terutama pada lahan gambut, karena api dapat menjalar ke lapisan bawah permukaan tanah sehingga lebih sulit dideteksi dan dipadamkan.

Tulisan ini satu rangkaian serial Darilaut.id mengenai kebakaran hutan dan lahan di Kepulauan Nusantara:

Api Membakar Hutan dan Lahan di Pulau Sulawesi

Kebakaran  hutan dan lahan banyak terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, seperti di Pulau Sulawesi mencakup Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat dan Gorontalo.

Api Membakar Hutan dan Lahan di Pulau Jawa

Api menghanguskan  hutan dan lahan di Pulau Jawa mencakup Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Banten. Kebakaran hutan dan lahan ini banyak terjadi di berbagai wilayah di Indonesia.

Kekeringan yang menyulitkan sumber air bersih di sejumlah wilayah di Pulau Jawa, dibarengi dengan kebakaran hutan dan lahan di musim kemarau disertai dengan El nino yang menguat. Kekeringan dan rentetan kebakaran telah menjadi siklus dengan rangkaian kejadian yang berulang-ulang setiap tahun di sejumlah wilayah. Keanekaragaman hayati, plasma nutfah, satwa, serta flora dan fauna lainnya hangus terbakar.

Api Membakar Hutan dan Lahan di Bali, Nusa Tenggara dan Maluku

Kebakaran  hutan dan lahan banyak terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, seperti di Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Maluku Utara.

Api Membakar Hutan dan Lahan di Papua

Kebakaran  hutan dan lahan banyak terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, seperti di sejumlah Provinsi di Papua.

Api Menghanguskan Hutan dan Lahan di Pulau Sumatra, Asap Menyebar Hingga Asia Tenggara

Kebakaran dahsyat  hutan dan lahan di Pulau Sumatra telah mengasapi sebagian wilayah  Asia Teggara. Asap bergerak tanpa memilih batas administrasi negara. Kemana angin bergerak partikel kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan akan mengikuti.

Kebakaran hutan bukan hanya memicu krisis lingkungan, asap yang dihasilkan dapat mengancam kesehatan masyarakat di lokasi kebakaran dan tempat asap itu terbawa angin melintasi wilayah dan batas administrasi negara.

Pada 25 Agustus 2026, Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) menampilkan visualisasi sebaran asap Sumatra hingga Malaysia dan wilayah sekitarnya. Visualisasi dibuat dengan menggunakan aplikasi Fire Emissions Watch yang baru saja diluncurkan.

Bara Api Menghanguskan Hutan dan Lahan di Pulau Kalimantan

Pulau Kalimantan memiliki lahan gambut yang cukup luas dan kandungan batu bara melimpah. Sejatinya, ”potensi lahan gambut tropis dengan luas 5,4 juta hektar di Pulau Kalimantan sangat penting untuk penyimpanan karbon dan menyediakan beragam jasa ekosistem, termasuk habitat bagi keanekaragaman hayati, pengaturan air, dan pengendalian polusi,” menurut Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).

Karakter lahan gambut berbeda dengan lahan biasa. Api di lahan gambut bisa terus menyala di bawah permukaan meski bagian atasnya sudah dipadamkan. Karena itu perlu penyiraman terus menerus, dan hujan adalah cara paling efektif.

El Niño Masih Akan Menguat

Kekeringan akibat kemarau panjang masih membayangi sejumlah daerah di Indonesia, disertai dengan kebakaran hutan dan lahan, serta sebaran asap yang ditimbulkan hingga pertengahan September.

Kondisi El Niño belum mencapai puncaknya di bulan Agustus, dan masih akan menguat. WMO telah merilis pembaruan kondisi terkini dan perkembangan status fenomena El Niño dan menyebutkan masih akan menjadi peristiwa yang sangat kuat dalam beberapa bulan mendatang, di Jenewa, Swiss, pada Kamis (3/9).

Prakiraan dari Pusat Produksi Global WMO menunjukkan “kemungkinan yang sangat tinggi, mendekati 100%,” bahwa El Niño akan terus berlangsung hingga Februari 2027.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) atau Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS, baru saja mengeluarkan Sistem Peringatan ENSO, pada 10 September.

El Niño sedang menguat dalam sebulan terakhir, dengan peluang lebih dari 90% peristiwa ini akan sangat kuat tahun 2026 – 2027.

Menurut NOAA, anomali suhu permukaan laut melebihi +3,0°C di wilayah Pasifik khatulistiwa bagian timur. Indeks suhu bawah permukaan khatulistiwa tetap stabil selama bulan Agustus, yang mencerminkan kondisi termoklin yang lebih dalam dari rata-rata.

Suhu bawah permukaan terus berada jauh di atas rata-rata, dengan anomali luas melebihi +10,0°C pada kedalaman tertentu. Anomali angin barat di lapisan bawah dan anomali angin timur di lapisan atas membentang dari Pasifik khatulistiwa bagian barat hingga tengah-timur.

El Niño semakin menguat selama sebulan terakhir, dengan anomali suhu permukaan laut melebihi +3,0°C di wilayah Pasifik khatulistiwa bagian timur. GAMBAR: NOAA

Konveksi dan curah hujan yang meningkat terus terjadi dari Pasifik tengah hingga timur, sementara anomali tetap tertekan di wilayah Indonesia, tulis NOAA, secara keseluruhan sistem interaksi laut-atmosfer mencerminkan penguatan El Niño.

Zamrud khatulistiwa Kepulauan Nusantara sejajar dengan interaksi laut-atmosfer di Pasifik Khatulistiwa tengah dan timur, yang telah memengaruhi iklim global ribuan mil.

Laporan terbaru WMO yang diterbitkan Kamis 17 September 2026 mengenai Kondisi Sumber Daya Air Global (State of Global Water Resources) menunjukkan bahwa siklus air menjadi lebih tidak menentu dan sulit diprediksi, berfluktuasi antara kondisi kekurangan air yang ekstrem atau kelebihan air.

“Fenomena El Niño yang semakin menguat akan meningkatkan risiko kekeringan di beberapa wilayah dan banjir di wilayah lainnya,” ujar Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo,

Serial tulisan ini dengan data pendukung:

● https://www.bmkg.go.id/

● https://bnpb.go.id/

● https://eu-space.europa.eu/

● https://gdacs.org/Alerts/default.aspx

● https://hotspot.brin.go.id/ 

● https://www.kehutanan.go.id/

● https://science.nasa.gov/

● https://www.noaa.gov

● https://sipongi.gakkum.kehutanan.go.id/

● https://wmo.int/

● https://www.wwf.id/id

● https://www.ykan.or.id

● https://zoom.earth/. (Verrianto Madjowa)

Exit mobile version