Darilaut – Kebakaran hutan dan lahan banyak terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, seperti di Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Maluku Utara.
Kebakaran di musim kemarau disertai dengan El nino yang menguat, diawali dengan kekeringan yang menyulitkan sumber air bersih di sejumlah wilayah.
Kekeringan dan rentetan kebakaran telah menjadi siklus dengan rangkaian kejadian yang berulang-ulang setiap tahun di sejumlah wilayah. Keanekaragaman hayati, plasma nutfah, satwa liar, serta flora dan fauna lainnya hangus terbakar.
Api yang membakar vegetasi merusak habitat ruang hidup satwa, sumber makanan musnah, serta dapat memicu ancaman lain berikutnya seperti banjir dan berkurangnya mata pencaharian penduduk lokal yang bergantung pada sistem kehidupan hutan dan lahan.
Darilaut.id menyelisik kebakaran hutan dan lahan di berbagai tempat di Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Maluku Utara.
Berdasarkan aplikasi Zoom.earth dan Gdacs.org, areal yang terbakar di Nusa Tenggara Timur dengan kode GDACS 1030914 Fire 5,671 hektare; dan di Maluku GDACS 1030997 Fire 5,197 hektare; GDACS 1031099 Fire 5,993 hektare.
GDACS fire (kebakaran hutan) pada sistem GDACS (Global Disaster Alert and Coordination System) adalah fitur pemantauan dan peringatan dini global yang mendeteksi serta menilai dampak kebakaran hutan atau lahan besar di seluruh dunia. Sistem ini merupakan kerja sama antara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Komisi Eropa.




