Darilaut – Kebakaran hutan dan lahan banyak terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, seperti di sejumlah Provinsi di Papua.
Kebakaran di musim kemarau disertai dengan El nino yang menguat, diawali dengan kekeringan yang menyulitkan sumber air bersih di sejumlah wilayah.
Kekeringan dan rentetan kebakaran telah menjadi siklus dengan rangkaian kejadian yang berulang-ulang setiap tahun di sejumlah wilayah. Keanekaragaman hayati, plasma nutfah, satwa liar, serta flora dan fauna lainnya hangus terbakar.
Api yang membakar vegetasi merusak habitat ruang hidup satwa, sumber makanan musnah, serta dapat memicu ancaman lain berikutnya seperti banjir dan berkurangnya mata pencaharian penduduk lokal yang bergantung pada sistem kehidupan hutan dan lahan.
Darilaut.id menyelisik kebakaran hutan dan lahan di berbagai tempat di sejumlah provinsi di Papua.
Berdasarkan aplikasi Zoom.earth dan Gdacs.org, areal yang terbakar, sebaran secara umum ada sembilan titik dengan kode masing-masing GDACS 1030610 Fire 6,480 hektare; GDACS 1030705 Fire 5,469 hektare dan GDACS 1030909 Fire 8,883 hektare.
Kemudian kode GDACS 1031208 Fire 6,574 hektare; GDACS 1031192 Fire 7,589 hektare; GDACS 1031109 Fire 6,926 hektare; GDACS 1031046 Fire 6,118 hektare; GDACS 1031148 Fire 9,500 hektare dan GDACS 1031092 Fire 5,589 hektare.




