Darilaut – International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior (IAVCEI) atau Asosiasi Ahli Gunung Api Dunia memberikan penghargaan untuk Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Pusat Vulkanologi Indonesia tercatat sebagai institusi pertama di dunia yang menerima penghargaan tersebut pada 2018. Penghargaan ini diberikan sebagai upaya kerja keras Indonesia dalam pemantauan gunung api.
Pemberian penghargaan ini didasarkan pada aspek pemantauan gunung api dan bagaimana institusi tersebut mengorganisasi krisis gunung api, baik itu ketika pra, saat, maupun setelah erupsi.
Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono mengatakan, pada 2020 kegiatan pemantauan gunung api di Indonesia memasuki usia 100 tahun.
Suatu jangka waktu yang cukup lama untuk pengembangan sistem pemantauan gunung api. Dalam perjalanan waktu, sejak awal pembentukan Dinas Penjagaan Gunung api hingga saat ini.
Institusi pemantauan gunung api terus melakukan penyempurnaan terhadap sistem pemantauan serta daya dukung sarana prasarana yang mengacu pada standar pemantauan gunung api dunia.
Seiring dengan perkembangan teknologi pemantauan yang semakin maju, kegiatan pemantauan gunung api dapat dilaksanakan dalam jarak yang cukup aman dari sumber aktivitas gunung api, nyaman, serta resposif dalam mendukung tugas mitigasi bencana gunung api.
Menurut Eko, misi yang diemban Kementerian ESDM dalam meminimalkan korban jiwa manusia dan kerugian harta benda dari bencana geologi dilakukan oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
“Salah satu upayanya adalah dengan melakukan pemantauan gunung api yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia,” ujar Eko, seperti dikutip dari siaran pers Esdm.go.id.
Sesuai dengan Visi dan Misi yang ada, PVMBG bertekad menjadi institusi yang utama dan terpercaya di bidang mitigasi bencana letusan gunung api, gerakan tanah, gempabumi dan tsunami untuk menyelamatkan jiwa dan harta benda serta memberikan rasa aman kepada masyarakat.
Saat ini, kata Eko, institusi pemantauan gunung api akan terus melakukan penyempurnaan terhadap sistem pengamatan. Selain itu, daya dukung sarana prasananya yang mengacu pada standar pemantauan gunung api dunia.
Kecepatan dan ketepatan menyampaikan informasi akan memberi dampak positif bagi banyak pihak dan masyarakat serta akan meminimalisir jatuhnya korban jiwa dan harta masyarakat.
“Berita kejadian bencana geologi di seluruh wilayah Indonesia sudah dapat diperoleh masyarakat melalui media-media elektronik yang tersebar banyak dan sangat mudah diakses berbagai kalangan, baik itu berita kejadian erupsi gunung api, gempa bumi-tsunami dan gerakan tanah,” kata Eko.*
