Belajar Kajian Maritim Dari Adrian Bernard Lapian

Prof Dr Adrian Bernard Lapian dan Alex John Ulaen saat Pertemuan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Batam, Juli 2010. FOTO: KOLEKSI ALEX JOHN ULAEN

Darilaut – Prof. Dr. Adrian Bernard Lapian, salah satu tokoh yang telah banyak memberikan kontribusi penting dalam penulisan sejarah Indonesia dan Asia Tenggara.

Lapian tokoh tersohor dalam pergerakan nasional di Manado, anggota Minahasaraad, anggota Fraksi Nasional Volkraad, dan tenar di antara kalangan rekan sejarawan Indonesia.

Pada era 1980 – 1990an minat dan pengetahuannya mengenai bidang sejarah dirintis saat menjadi peneliti di LIPI. Tahun 1986-1990 Lapiran mendirikan sekaligus sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB-LIPI).

Periode 1990-1994 Lapian menjadi ahli peneliti utama, dan menorehkan berbagai sumbangan berharga di bidang sejarah lisan, sejarah lokal dengan fokus pada Kawasan Timur Indonesia.

Lapian mengangkat kembali people without history di berbagai kawasan itu. Selain itu, menekuni studi kawasan yang disusun berdasarkan persepsi para aktor sejarah.

Pada pada Jumat (22/9) International Forum on Spice Route (IFSR) 2023, kembali menggali sejarawan ini dalam “A.B. Lapian Memorial Lecture”.

Kegiatan dalam bentuk kuliah umum tersebut mengusung tema “Komunitas Maritim Indonesia” yang dimotori oleh Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial Humaniora Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial Humaniora BRIN, Ahmad Najib Burhani, mengatakan, kegiatan ini dengan tujuan untuk memperkuat kajian yang sudah sejak lama ditekuni dan diwariskan oleh Lapian.

Selain itu, kata Ahmad, secara lebih luas menentukan ide negara Indonesia sebagai negara maritim.

Menurut Najib ada empat pilar bagi pemangku kebudayaan maritim Indonesia yang sebenarnya. Mereka adalah Suku Bajau, Komunitas Nelayan, Komunitas Pelayaran Rakyat Tradisional, dan Komunitas Peraba Pasisir.

Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) BRIN Lilis Mulyani, mengatakan, pihaknya sangat diuntungkan dengan adanya IFSR, karena kegiatan A.B. Lapian dapat disandingkan dengan kegiatan IFSR.

Dalam kegiatan kali ini, banyak sekali paper yang masuk terkait dengan komunitas maritim ataupun isu-isu lainnya.

BRIN bersama Yayasan Negeri Rempah akan mengumpulkan semua pengetahuan atau paper yang sudah terkumpul. Kami akan membuat beberapa editing volume dengan tema-tema khusus tentang tema maritim khususnya maritim Indonesia, kata Lilis.

Karena itu, perlu lebih banyak akumulasi dalam bentuk editing volume yang bisa disebarkan secara global.

Mudah-mudahan bisa menjadi ide-ide atau menumbuhkan bibit-bibit peneliti baru yang tertarik untuk melakukan penelitian mengenai maritim. Khususnya tentang komunitas maritim di Indonesia, ujar Lilis.

Perpustakaan Maritim

Dosen Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo sebagai Presiden Kerukunan Keluarga Bajau Indonesia atau Kekar Bajau Indonesia, Abdul Manan, mengatakan, Suku Bajau salah satu warisan komunitas maritim Indonesia yang masih eksis sampai saat ini. Keberadaan mereka sangat penting bagi kelanjutan komunitas maritim.

Berdasakan data sensus BPS pada 2010, Orang Bajau, Bajo, Bayo/Suku Laut (Sea Nomads) berjumlah 24.836 orang. Mereka mengindentifikasi dirinya sebagai Orang Bajau atau Orang Laut.

Menurut Abdul, Suku Bajau adalah perpustakaan maritim yang semestinya dieksplorasi sebagai khazanah dan kekayaan pengetahuan kemaritiman yang saat ini menjadi mata kuliah wajib di perguruan tinggi baik program S1, S2, dan S3.

Kehidupan mereka memiliki nilai intagible (aset yang tidak berwujud atau bentuk fisik), yang tidak bisa dinilai dengan rupiah atau dollar. “Apabila nilai ini hilang, artinya Indonesia kehilangan jati dirinya sebagai negara maritim,” kata Abdul.

Abdul menjelaskan bahwa penyebaran Suku Bajau di Indonesia meliputi wilayah pesisir dan laut, serta pulau-pulau kecil pada 23 Provinsi. Mereka tersebar di wilayah yang tampaknya acak sesuai dengan karakter nomaden dengan menandai luas wilayah.

Dalam pengertian sains modern, kata Abdul, disebut sebagai World Coral Triangle Center. Kekayaan alam lautnya, dari 850 jenis karang yang telah teridentifikasi di dunia, 750 jenis di antaranya ada di kawasan ini. Demikian pula jenis ikan sebanyak 942 jenis.

Menurut Abdul, sebelum ilmu pengetahuan modern menandainya, Suku Bajau adalah penjaga dan pewaris dari wilayah kelautan yang amat kaya. Suku ini dan World Coral Triangle adalah kesatuan yang tak dapat dipisahkan.

Abdul mengatakan fenomena pasang surut laut sebagai petunjuk kebenaran informasi. Rasi bintang sebagai kompas dan penentuan fishing ground. Pengetahuan tentang laut dalam dan laut dangkal dikaitkan dengan kecelakaan atau karam.

Kini, orang Bajau harus dihadapkan pada tantangan zaman, mulai dari kebutuhan ekonomi yang semakin meningkat, dan lain-lain. Dulu orang Bajau sangat menjaga lingkungan, namun karena desakan kondisi harus membuat permukiman.

“Mereka akhirnya memanfaatkan terumbu karang sebagai alas untuk pemukiman. Sudah terjadi pergeseran, dan tantangan semacam itu harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Ahli Ekologi Budaya-Adaptasi Perubahan Iklim & Alternatif Pembangunan Chulalongkorn University, Wengky Ariando, menjelaskan riset agenda perjalanan dari masyarakat Sea Nomads.

Menurut Wengky, identifikasi berdasarkan internal kelompok, beda dengan identifikasi diri orang Bajau, karena kebutuhan akademisi dan lainnya. Kelompok nama laut menggunakan istilah yang paling umum digunakan dan dikenal peneliti.

Identifikasi Sea Nomads digunakan sebagai pendekatan antropologi dan diadopsi dalam isu-isu atau pendekatan nasional, ujarnya.

Exit mobile version