Berada di Garis Khatulistiwa Indonesia Rentan Jatuhnya Sampah Antariksa

Serpihan roket Long March 5B (CZ-5B) itu milik China National Space Administration (CNSA) jatuh di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. FOTO: LAPAN.GO.ID

Darilaut – Letak Indonesia yang berada di garis khatulistiwa sangat rentan terdampak jatuhnya space debris atau sampah antariksa.

Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, mengatakan, Indonesia rentan terdampak kejatuhan sampah antariksa karena posisinya yang berada di sekitar garis khatulistiwa.

“Indonesia memiliki wilayah geografi yang sangat luas dan berada di jalur lintasan orbit satelit dan space debris. Itu sebabnya pemantauan space debris harus menjadi prioritas nasional,” ujarnya dalam talkshow bertema Space Situational  Awareness di ajang pameran Indo Defence Expo & Forum ke-10, Selasa (11/6).

Thomas mencontohkan, sejak tahun 1981 setidaknya telah terjadi enam kali jatuhnya serpihan roket ke wilayah Indonesia, termasuk di Gorontalo (1981), Lampung (1988), Bengkulu (2003), Madura (2016), Sumatera Barat (2017), dan Kalimantan (2021–2022).

Fragmen tersebut merupakan bagian dari roket milik Uni Soviet, China, hingga Amerika Serikat.

Untuk itu, BRIN melalui Pusat Riset Antariksa terus memperkuat sistem identifikasi dan pemantauan space debris atau sampah antariksa yang semakin mengancam keamanan satelit, termasuk milik Indonesia.

Menurut Thomas kepadatan obyek antariksa di orbit yang terus meningkat menjadi isu global yang harus diantisipasi sejak dini.

BRIN sendiri telah memulai pemantauan space debris sejak 2001 dengan memanfaatkan perangkat lunak daring dan data dari Space Track.

Kemudian, pada 2009, tim astronom BRIN mengembangkan perangkat lunak Track-it untuk analisis lintasan obyek antariksa, dan mulai mengobservasi obyek-obyek tersebut dengan kamera DSLR serta teleskop kecil.

Pada 2022, kata Thomas, berhasil membangun sistem observasi fotometrik dengan teleskop kecil di Kupang. Sistem ini telah menghasilkan hampir 100 kurva cahaya dari berbagai obyek antariksa, termasuk satelit komunikasi bekas milik Indonesia yang sudah tidak aktif.

Selanjutnya, pada 2024 BRIN mengembangkan sistem pelacakan otomatis menggunakan teleskop 50 cm.

Sistem ini berbasis skrip Python dan mampu melacak obyek antariksa di orbit MEO dan GEO, meskipun untuk LEO (Low Earth Orbit) masih cukup menantang karena kecepatannya sangat tinggi. Namun, sistem ini tetap bisa efektif untuk obyek LEO dengan ketinggian di atas 1000 km.

Pengembangan sistem pelacakan ini menjadi sangat penting untuk mendapatkan karakteristik gerak dasar dari satelit komunikasi bekas milik Indonesia, serta menjadi kontribusi signifikan dalam upaya mitigasi potensi tabrakan di orbit.

Thomas mengatakan teleskop besar BRIN di Observatorium Nasional Timau berdiameter 3,8 meter juga memiliki potensi besar dalam mendukung program observasi space debris.

“Teleskop Timau akan menjadi instrumen penting untuk Indonesia dalam menjawab tantangan global ini,” ujarnya.

Dengan sistem yang terus dikembangkan, BRIN tidak hanya menjawab kebutuhan nasional tetapi juga siap berkontribusi dalam kerja sama internasional dalam menangani permasalahan space debris yang berisiko tinggi bagi sistem teknologi dan keamanan ruang angkasa global.

Exit mobile version