Bernilai Tinggi, Ini Peluang Budidaya Kuda Laut

Kuda laut spesies Hippocampus barbouri di Pulau Calamianes, Filipina. FOTO: G.R. ALLEN/M.V. ERDMANN-FISHBASE.SE

Darilaut – Sudah ratusan tahun kuda laut diburu untuk bahan pengobatan, terutama di Asia seperti Tiongkok. Permintaan kuda laut dalam keadaan hidup di negara-negara Eropa dan Amerika cukup tinggi untuk ikan hias akuarium.

Karena bernilai tinggi, spesies ini kerap diburu. Akibat perburuan, kuda laut yang hidup di perairan pesisir di daerah tropis hingga subtropis pada 50 derajat Lintang Utara dan 50 derajat Lintang Selatan ini makin berkurang.

Untuk mempertahankan populasi di alam, sejak Mei 2004 semua jenis kuda laut dimasukan dalam Appendix II, CITES (Convention for the International Trade in Endangered Species). Appendix II CITES, artinya bila perdagangannya tidak diatur, maka dikhawatirkan semua spesies kuda laut akan terancam punah.

Kuda laut termasuk jenis ikan yang mempunyai bentuk yang sangat unik. Tampilannya berbeda dengan jenis ikan kebanyakan.

Ciri umum ikan kuda laut (Hippocampus spp) adalah bentuk kepala yang menyerupai kuda dengan moncong yang panjang dan tidak mempunyai gigi seperti kebanyakan ikan pada umumnya.

Kepala kuda laut membentuk sudut 90 derajat dari badannya.

Mata kuda laut dapat digerakkan ke segala arah hingga dapat melihat sekeliling tanpa harus memalingkan kepala.

Bagian tubuh kuda laut ditutupi oleh berlapis-lapis keping tulang yang berfungsi sebagai perisai atau pelindung tubuh pengganti sisik.

Meskipun tubuhnya menyimpang dari bentuk ikan pada umumnya, terdapat organ-organ yang identik ikan. Seperti insang sebagai organ respirasi, sirip punggung yang digunakan untuk bergerak dan tulang punggung yang menjadi penopang tubuhnya.

Bentuk ekornya memanjang dan meruncing, berfungsi sebagai organ untuk berpegangan pada obyek atau substrat tertentu. Kuda laut memiliki ukuran panjang tubuh dari ujung mulut hingga ujung ekor sekitar 17 mm -35 cm.

Kuda laut ukuran paling kecil yaitu “pygmy seahorse” spesies H. pontohi, H. severnsi dan H. satomiae dengan panjang maksimum hanya mencapai <17 mm.

Kuda laut berukuran besar “big-bellied seahorse” seperti spesies H. abdominalis dengan panjang badan mencapai 350 cm.

Secara morfologi, kuda laut jantan dan betina sulit dibedakan pada stadia juvenil. Setelah dewasa keduanya dapat dibedakan dengan jelas karena kuda laut jantan memiliki kantong telur pada bagian abdomennya, sementara pada kuda laut betina tidak ada.

Umumnya kuda laut hidup di kedalaman kurang dari 20 meter. Kuda laut ini dapat dijumpai di kawasan yang ditumbuhi padang lamun, terumbu karang, rumput laut, dan mangrove.

Terdapat pula spesies kuda laut tertentu yang dijumpai berada di muara sungai atau laguna dengan substrat dasar berpasir maupun berlumpur.

Mayoritas jenis-jenis kuda laut di dunia berasosiasi dengan benda-benda yang ada di lingkungannya. Jumlah jenis dan kepadatan kuda laut tersebut berbeda sesuai habitat.

Untuk menjaga kelestarian, upaya budidaya biota laut ini pun mulai dikembangkan. Di Filipina pada 1980-an, telah dilakukan budidaya kuda laut secara besar-besaran di Marungas, Jolo dan Sulu.

Rantai pemasaran di Borneo, Singapura dan Hongkong yang dijual dalam bentuk kering. Kuda laut yang berkualitas baik ditentukan pada keutuhan belah matanya.

Budidaya kuda laut yang tercatat berhasil dikembangkan berada di sejumlah negara, misalnya di Australia, Tasmania dan New Zealand.

Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai peluang yang besar untuk mengembangkan usaha budidaya kuda laut.

Namun, sampai ini budidaya kuda laut belum banyak dilakukan di perairan Indonesia.

Saat ini, budidaya kuda laut di Indonesia tercatat dikembangkan Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Provinsi Lampung dan di Pulau Badi, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Bagi yang ingin membudidayakan kuda laut, Peneliti di Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dwi Eny Djoko Setyono mengatakan, perlu penguasaan pengetahuan mengenai karakteristik biologi.

Hal ini akan menunjang keberhasilan usaha budidaya kuda laut dengan lebih baik.

Dalam Jurnal Oseana, Volume 45, Nomor 1 Tahun 2020: 70-8, dengan judul “Karakteristik Biologi Kuda Laut (Hippocampus spp.) Sebagai Pengetahuan Dasar Budidaya” Setyono memberikan sejumlah hal terkait dengan karakteristik biologi kuda laut yang perlu diupayakan pada lingkungan budidaya.

Pertama, kondisi lingkungan budidaya (massa air) dijaga/diatur relatif tenang supaya kuda laut dapat mengatur keseim-bangan daya apungnya. Aliran air (arus) dan aerasi diatur pada posisi rendah.

Kedua, perlu disediakan substrat sebagai tempat kuda laut menambatkan diri.

Ketiga, pakan diberikan dalam kondisi hidup (live food) dan melayang di kolom air.

Keempat, ukuran pakan harus sesuai dengan ukuran bukaan mulut kuda laut supaya bisa ditelan.

Kelima, perlu pemasangan lampu (intensitas cahaya) supaya kuda laut dapat melihat mangsanya untuk ditangkap.

Keenam, pasangan kuda laut perlu dijaga supaya tetap hidup sehat karena mayoritas kuda laut setia dan hanya mau kawin dengan pasangannya.

Ketujuh, induk kuda laut perlu diberikan makanan yang mengandung nutrisi tinggi untuk menjaga kesuburan dan kualitas sperma dan telurnya.

Kedelapan, suhu air budidaya diupayakan atau diatur stabil pada 28 derajat C. Karena suhu tersebut yang optimum untuk tingkat pembuahan, perkembangan embrio, dan penetasan telur kuda laut.

Sumber:

Asmanelli dan Ikhsan Pralogi Andreas, LIPI, “Beberapa Catatan Mengenai Kuda Laut dan Kemungkinan Pengembangannya” Jurnal Oseana, Volume XVIII No. 4, 1993.

Eny Djoko Setyono, Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan judul “Karakteristik Biologi Kuda Laut (Hippocampus spp.)” Jurnal Oseana, Volume 45, Nomor 1 Tahun 2020: 70-8.

Exit mobile version