Darilaut – Hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi dan sebaran asap di sejumlah wilayah Indonesia, akhir September 2026. Pemantauan citra satelit hingga 27 September 2026 pukul 23.00 WIB, BMKG masih mendeteksi titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi, masing-masing sebanyak 36 titik di Sumatera, 255 titik di Kalimantan, 8 titik di Jawa, 24 titik di Nusa Tenggara, 38 titik di Sulawesi, serta 237 titik di Maluku dan Papua. Pada waktu yang sama, Citra Satelit Himawari-9 juga menunjukkan adanya sebaran asap di Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur, menurut BMKG. BMKG mengatakan Hari Tanpa Hujan hingga Dasarian II September 2026, kategori sangat panjang hingga ekstrem masih teridentifikasi di sebagian besar Jawa bagian tengah hingga timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan sebagian Nusa Tenggara Timur. Beberapa wilayah lainnya di Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi bagian selatan hingga tenggara. Minimnya tutupan awan di wilayah-wilayah tersebut turut mendukung peningkatan suhu udara maksimum di siang hari, kata BMKG. Pada periode 24–27 September 2026, suhu maksimum lebih dari 37,0°C tercatat di Kalimantan Selatan, Lampung, Jawa Tengah, dan Sulawesi Barat. Kondisi suhu udara yang tinggi dan kelembaban atmosfer yang relatif rendah dapat mempercepat proses penguapan serta meningkatkan potensi dehidrasi dan risiko kebakaran hutan dan lahan, kata BMKG. Potensi kebakaran hutan dan lahan masih perlu diwaspadai, terutama di wilayah yang mengalami periode kering berkepanjangan dan memiliki jumlah titik panas yang relatif tinggi. Kondisi cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia diprakirakan masih dipengaruhi oleh El Niño dengan intensitas sangat kuat, di akhir September hingga awal Oktober 2026. Menurut BMKG hal ini tercermin dari nilai Southern Oscillation Index (SOI) yang berada di angka -20,4 dan indeks Niño 3.4 sebesar +2,63. Pada saat yang sama, nilai rata-rata mingguan Dipole Mode Index (DMI) sebesar +0,935 menunjukkan kecenderungan berkurangnya suplai uap air dari Samudra Hindia menuju wilayah Indonesia bagian barat. Seiring menguatnya kondisi kering, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk menghemat penggunaan air serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. BMKG meminta masyarakat tidak membakar sampah atau membuka lahan secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api.