BMKG Gelar Sekolah Lapang untuk Nelayan di 20 Lokasi

Ilustrasi. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menggelar sekolah lapang untuk nelayan di 20 lokasi di Indonesia. Kegiatan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) tersebut tersebar di 20 Provinsi.

Kegiatan ini dengan tujuan untuk memberikan pemahaman terkait pemanfaatan informasi cuaca dan iklim secara efektif dalam mendukung kegiatan perikanan.

Seperti di Takalar Provinsi Sulawesi Selatan, kegiatan sekolah lapang tersebut diselenggarakan oleh Stasiun Meteorologi Maritim Paotere Makassar. Sekolah lapang berlangsung selama 3 hari, pada 26 hingga 28 Agustus di Pantai Galesong Kecamatan Galesong Utara.

Kegiatan ini diikuti 25 peserta yang terdiri dari 9 orang penyuluh perikanan, 1 orang petugas syahbandar perikanan, serta 15 orang perwakilan kelompok Nelayan asal Takalar.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto, mengatakan, SLCN merupakan salah satu program unggulan BMKG yang bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat khususnya nelayan tentang pentingnya pemanfaatan informasi cuaca dalam kegiatan melaut. Diharapkan nelayan dapat melaut dengan aman dan dapat meningkatkan hasil tangkapan.

Hal ini sebagaimana tema pelaksanaan SLCN tahun 2020 “Dengan Informasi cuaca, melaut selamat, nelayan sejahtera dalam adaptasi kebiasaan baru”.

Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Takalar Sirajuddin Saraba, Kabupaten Takalar memiliki potensi perikanan yang besar di Sulawesi Selatan dan sedang mengembangkan komoditas-komoditas baru yang tentu saja sangat membutuhkan informasi cuaca. Diharapkan kolaborasi dengan BMKG bisa semakin ditingkatkan.

Sekolah Lapang Cuaca Nelayan ini dilaksanakan dengan tetap mengikuti protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Di Semarang Jawa Tengah, Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas mengelar SLCN di Kelurahan Tritunggal, Kabupaten Rembang. Sebanyak 25 orang berpartisipasi sebagai peserta.

Para peserta ini terdiri dari 2 Petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Rembang, 6 penyuluh dari Kabupaten Rembang, 7 Ketua kelompok nelayan Rembang. Kemudian, 1 ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Rembang, 1 petugas DKP Pati, 2 penyuluh dari Pati, 5 ketua kelompok nelayan dari pati, dan 1 ketua HNSI Pati. Kegiatan berlangsung tanggal 24 – 26 Agustus.

Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG Eko Prasetyo mengatakan, SLCN ini merupakan kegiatan dan wadah penyampaian informasi meteorologi maritim dari BMKG di daerah kepada nelayan perikanan tangkap dan budidaya.

Sebelumnya, selama 3 hari, Jumat 7 – 9 Agustus bertempat di aula kampung nelayan Kabupaten Garut Jawa Barat, Pusat Meteorologi Maritim BMKG menggelar SLCN.

Lokasi perairan Jawa Barat, khususnya selatan Garut mempunyai kerentanan yang cukup tinggi akan dampak cuaca dan iklim ekstrim. Seperti gelombang tinggi yang dapat mengganggu, bahkan membahayakan aktivitas perikananan tangkap saat melaut.

Melalui kegiatan ini diharapkan menjadi wadah saling berbagi pengetahuan, informasi dan pengalaman antara BMKG dengan peserta perihal cuaca dan iklim.

Dengan demikian, dapat meningkatkan kemampuan antisipasi nelayan dalam menyikapi dampak cuaca dan iklim ekstrim untuk aktivitas perikanan tangkap.*

Exit mobile version