Darilaut – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan fenomena El Niño kategori sangat kuat bersamaan dengan musim kemarau menghasilkan kondisi atmosfer Indonesia yang kering, tutupan awan yang minim, hingga meningkatnya suhu permukaan.
Sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori ekstrim, lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan, yang meliputi wilayah Sumatra bagian selatan, sebagian besar Jawa, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi bagian utara dan selatan, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua Selatan.
Kondisi atmosfer kering tersebut meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan serta meluasnya kabut asap akibat karhutla di berbagai wilayah Indonesia, kata Direktorat Meteorologi Publik BMKG.
Pemantauan BMKG melalui satelit pada 7-16 September 2026, konsentrasi titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi paling banyak tercatat di Kalimantan Tengah (3177), disusul oleh Sumatera Selatan (1305), Kalimantan Barat (1088), dan Papua Selatan (960).
Sebelumnya, pada Rabu (16/9), BMKG melaporkan perkembangan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kondisi pascagempa Flores, serta dukungan informasi cuaca dan oseanografi dalam operasi pencarian dan penyelamatan kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam rapat terbatas yang digelar secara hybrid.




