Darilaut – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa kondisi musim di Indonesia tidak seragam. BMKG membagi wilayah Indonesia ke dalam 699 zona musim karena setiap daerah memiliki karakteristik hujan yang berbeda.
Dengan kemampuan prakiraan cuaca dari skala jam hingga 10 hari ke depan, prediksi iklim hingga satu tahun, serta proyeksi perubahan iklim jangka panjang, BMKG menyediakan informasi yang dapat membantu daerah mengenali risiko lebih dini dan menyusun kebijakan pembangunan yang lebih adaptif.
Kebutuhan tersebut semakin relevan menjelang musim hujan 2026/2027.
Pada sejumlah wilayah, musim hujan diprakirakan mulai pada November hingga Desember dengan puncak pada Desember, Januari, dan Februari.
Meski akumulasi curah hujan dapat berada pada kisaran normal klimatologis, hujan yang terkonsentrasi dalam periode lebih singkat tetap perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan kejadian hujan ekstrem serta risiko banjir dan longsor.
“Efek perubahan iklim itu bukan besok-besok, sekarang terjadinya. Jadi kita harus persiapkan dengan sebaik-baiknya,” kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menilai langkah adaptasi dan mitigasi akan lebih efektif apabila pembangunan kota disusun berdasarkan data, daya dukung lingkungan, serta risiko yang dihadapi masing-masing wilayah.




