Darilaut – Tim survei gabungan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan survei makroseismik yang membuktikan tingkat guncangan terbesar mencapai skala VII MMI (Modified Mercalli Intensity) di Pulau Batang Dua, Maluku Utara.
Survei ini sesuai dengan peta guncangan (shakemap) yang diterbitkan BMKG.
Peristiwa gempa bumi berkekuatan magnitudo (M)7,6 terjadi di Laut Maluku, pada Kamis (2/4) pagi. Gempa tersebut mengakibatkan tsunami kecil di beberapa wilayah di Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
Petugas di lapangan telah memverifikasi jejak rendaman tsunami setinggi 0,5 hingga 1,5 meter di wilayah Bitung, Pulau Lembeh, Minahasa Utara, dan Minahasa Tenggara, yang membuktikan akurasi Peringatan Dini Tsunami pada tingkat “Siaga” saat kejadian berlangsung.
Tim BMKG tersebut berasal dari Pusat, Balai Besar MKG Wilayah IV, hingga Unit Pelaksana Teknis (UPT) Maluku Utara dan Sulawesi Utara. Tim saat ini masih terus memvalidasi dampak di lapangan.
Guna menjamin keamanan warga selama masa pemulihan, BMKG juga melaksanakan pengukuran mikrozonasi untuk memetakan kerentanan tanah terhadap potensi likuefaksi dan longsor.
Langkah ini berjalan beriringan dengan sosialisasi masif kepada masyarakat untuk menangkal informasi hoaks yang seringkali memicu kepanikan.
“Edukasi terkait prosedur evakuasi mandiri yang benar menjadi prioritas utama tim di lapangan agar warga memiliki pemahaman mitigasi yang tepat,” ujar Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama.
BMKG mencatat berdasarkan hasil monitoring hingga 9 April 2026 pukul 06.00 WIB, tercatat sebanyak 1.378 gempa susulan telah terjadi dengan 25 gempa diantaranya dirasakan oleh masyarakat.
BMKG memprediksi frekuensi gempabumi susulan pasca-gempa utama M7,6 di Maluku Utara menunjukkan tren penurunan yang signifikan.
Berdasarkan analisis statistik terbaru, seluruh rangkaian aktivitas tektonik ini akan meluruh sepenuhnya dalam kurun waktu 2 hingga 3 minggu sejak gempa utama yang terjadi pada 2 April 2026 lalu.
Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak panik.
Selain itu, warga menghindari bangunan yang telah mengalami kerusakan struktur atau retakan signifikan guna menghindari risiko runtuhan akibat gempa susulan.
Masyarakat juga wajib menjauhi area lereng perbukitan yang rawan longsor akibat ketidakstabilan tanah pasca-gempa, kata Rahmat.
