BNPB: Siklus Gempa dan Tsunami Palu Pengulangan Satu Generasi

Gempa disusul gelombang tsunami di Teluk Palu, Sulawesi Tengah, Jumat 28 September 2018. FOTO: VERRIANTO MADJOWA

Darilaut – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat siklus gempa yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah, merupakan peristiwa pengulangan satu generasi. Artinya, siklus terjadinya gempa dan tsunami tersebut terjadi setiap 25-30 tahunan.

“Siklus gempa di Palu ini cuma satu generasi, cuma 25-30 tahun,” kata Plt. Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB Abdul Muhari, Selasa (10/11).

Menurut catatan sejarah, peristiwa gempa dan tsunami sebelumnya pernah terjadi di Palu pada tahun 1927 dengan tinggi tsunami 15 meter. Gempa an tsunami tersebut menyebabkan 14 orang meninggal dunia.

Kemudian pada tahun 1968 gempa memicu tsunami setinggi 10 meter, sedikitnya 200 orang meninggal dunia.

Selanjutnya tsunami tahun 1996 di Toli-toli dan terakhir tahun 2018 dengan tsunami setinggi 13 meter.

Melihat dari rentetan peristiwa tersebut, Muhari mengatakan bahwa catatan tersebut hendaknya dapat dijadikan pelajaran dan pengetahuan bagi generasi penerus. Sehingga kejadian tersebut dapat lebih diantisipasi dan kerugian serta korban jiwa dapat diminimalisir.

“Kalau ini hilang pengetahuannya, maka generasi mendatang akan mengalami hal yang sama,” kata Muhari.

Hasil riset dan kajian, peristiwa tsunami yang terjadi di Palu pada 2018 silam tidak diakibatkan oleh gempanya.

Akan tetapi gempa ini memicu longsoran di bawah laut yang kemudian menimbulkan tsunami.

Menurut Muhari tsunami yang terjadi akibat dipicu oleh longsoran bawah laut tersebut memiliki interval waktu yang sangat singkat. Sehingga hal itu yang menyebabkan banyak korban.

“Dinding-dinding tebing sepanjang teluk Palu ini kemudian jatuh. Ini yang kemudian membangkitkan tsunami yang datangnya sangat cepat. Jadi berbeda dengan tsunami di tempat lain yang punya waktu 20 sampai 40 menit. Di Palu kita cuma punya waktu tidak sampai 5 menit,” ujar Muhari.

Salah satu solusi yang dapat dilakukan, kata Muhari, dengan meningkatkan upaya mitigasi berbasis ekosistem.

Hal itu sebagaimana yang selalu dikatakan Kepala BNPB Doni Monardo sebelumnya tentang pentingnya menjaga alam sebagaimana alam akan menjaga manusia dan kehidupan di bumi.

Di sisi lain, bentuk mitigasi berbasis ekosistem juga dinilai paling sesuai dilihat dari topografi perairan di Indonesia.

“Harus menjauhkan potensi terdampak dari kawasan pesisir. Mitigasi berbasis ekosistem sangat bagus untuk perairan kita, karena akan menjamin sustainability dari upaya mitigasi itu sendiri,” kata Muhari.

Exit mobile version