Koordinator Kerja Sama IMPOLSE dari BRIN, Adi Purwandana, menyampaikan bahwa pendekatan observasi beresolusi tinggi ini sangat penting untuk menjawab berbagai pertanyaan ilmiah yang selama ini belum terpecahkan. Berdasarkan hasil analisis awal data mooring di Laut Maluku, amplitudo gelombang internal soliter yang sebelumnya diperkirakan hanya berkisar antara 40 hingga 80 meter melalui citra satelit, ternyata dapat melampaui 100 meter. Nilai tersebut sebanding dengan amplitudo maksimum yang pernah teramati di Selat Lombok.
Sementara itu, peneliti IOCAS, Zheng Wang, menilai kolaborasi antara BRIN dan IOCAS memiliki arti strategis bagi penguatan riset kelautan di tingkat regional maupun global. Ia menyebut kerja sama ini sebagai bentuk nyata implementasi visi Indonesia Emas 2045 dan Belt and Road Initiative, sekaligus menempatkan Indonesia dan Tiongkok sebagai aktor penting dalam penelitian Arus Lintas Indonesia (Indonesian Throughflow) di kancah internasional.
Ekspedisi IMPOLSE 2025 dilaksanakan menggunakan Kapal Survei Geomarin III milik Balai Besar Survei dan Pemetaan Geologi Kelautan (BBSPGL), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kegiatan ini dibagi ke dalam dua etape. Etape pertama berfokus pada pengangkatan mooring di wilayah utara Selat Lombok, Kanal Labani, serta Laut Maluku bagian barat. Selanjutnya, etape kedua dilaksanakan di Laut Maluku bagian timur dan celah Lifamatola dengan dukungan pengukuran menggunakan Vertical Microstructure Profiler (VMP) dan Conductivity Temperature Depth (CTD).




