Darilaut – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkenalkan sistem untuk mendetekasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Aplikasi pemantauan titik panas (hotspot) berbasis data satelit tersebut mengolah data menjadi informasi titik panas dalam sekitar 30 menit sehingga potensi kebakaran dapat segera direspons sebelum meluas.
Data utama sistem hotspot BRIN saat ini berasal dari sensor VIIRS pada satelit Suomi NPP dan NOAA-20. Sensor tersebut menggantikan MODIS pada satelit Terra dan Aqua yang telah beroperasi lebih dari 20 tahun dan mengalami penurunan akurasi deteksi, sehingga tidak lagi digunakan dalam sistem saat ini.
BRIN mengembangkan sistem tersebut melalui penjajakan pemanfaatan data satelit NOAA-21, penguatan stasiun bumi cadangan di Rancabungur sebagai penopang stasiun utama di Parepare, serta penyempurnaan metode penyaringan berbasis data historis untuk mengurangi kesalahan deteksi dalam mendukung mitigasi karhutla di Indonesia.
Data yang diterima stasiun bumi kemudian dikirim ke pusat pengolahan Cloud BRIN untuk diolah menjadi titik hotspot.
Data tersebut selanjutnya disaring untuk mengurangi kesalahan deteksi, seperti aktivitas industri, pertambangan batu bara, dan kawah gunung berapi, sebelum dikelompokkan dan ditampilkan pada dasbor.



