Darilaut – Indonesia memiliki kondisi geografis yang berada di jalur Ring of Fire (Cincin Api Pasifik) dan pertemuan lempeng tektonik aktif. Wilayah pesisir berbatasan langsung dengan lempeng megathrust menyimpan potensi gempa yang dapat memicu gelombang tsunami.
Untuk itu, Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) pada Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan PUMMA (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut) atau Inexpensive Device for Sea-Level Measurement (IDSL).
Alat buatan dalam negeri ini ditujukan untuk memperkuat sistem deteksi dini tsunami di Indonesia.
Melansir Brin.go.id, selama enam tahun terakhir, perangkat tersebut telah aktif memantau perairan pesisir Indonesia.
Urgensi pengembangan PUMMA tidak terlepas dari karakteristik geologi Indonesia yang rentan terhadap gempa bumi dan tsunami.
Peneliti Ahli Utama dari Kelompok Riset Volkano Tsunami dan Gelombang Panjang, PRKG BRIN, Semeidi Husrin, menjelaskan bahwa PUMMA, selain untuk tsunami, juga diharapkan dapat disandingkan dengan upaya mitigasi bencana pesisir ramah lingkungan seperti tanaman pantai, tanggul alami dan struktur berbasis material alami lainnya untuk pengelolaan dinamika pesisir dan perlindungan Pantura Jawa.
“PUMMA hadir sebagai jawaban atas keterbatasan sistem peringatan dini yang selama ini bertumpu pada sensor seismic,” ujar Semeidi Selasa (26/5).
“PUMMA diunggulkan karena sesuai dengan karakteristik tsunami dan kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan.”
Semeidi mengatakan, kata “murah” dalam nama alat ini bukan sekadar menggambarkan biaya produksi yang rendah, melainkan mencerminkan filosofi efisiensi tanpa mengorbankan keandalan.
Alat ini mampu memantau kondisi (anomali) permukaan laut secara langsung dengan pembaruan data setiap 15 detik (near-real time).
Ada usulan untuk mengganti kata ‘murah’ menjadi ‘multiguna’, karena memang fungsi alat ini tidak terbatas hanya untuk mendeteksi tsunami tetapi juga untuk hal lain, seperti mitigasi bencana pesisir dan pengelolaan sumber daya di wilayah pesisir, kata Semeidi.
Semeidi juga menambahkan bahwa pengembangan PUMMA sangat mempertimbangkan kondisi khas kebencanaan di Indonesia.
Menurut Semeidi, sebagian besar tsunami di Indonesia bersifat nearfield dan atipikal, sehingga memerlukan pendekatan deteksi yang berbeda dibandingkan sistem konvensional.
