Bukan Ikan Salmon, Sidat Ternyata Memiliki Nilai Gizi Tertinggi

Ikan sidat. FOTO: KKP

Darilaut – Ikan sidat menjadi salah satu sumber daya perikanan yang memiliki potensi ekonomi strategis di Indonesia. Apalagi ikan sidat ternyata memiliki nilai gizi tertinggi.

“Selama ini, kita selalu mengira salmon yang paling tinggi, ternyata sidat justru memiliki nilai gizi tertinggi,” kata Peneliti Ahli Utama, Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gadis Sri Haryani, dalam seminar “Penguatan Tata Kelola dan Hilirisasi Industri Sidat Sebagai Dasar Perumusan Kebijakan Nasional Perikanan Berkelanjutan”, di Kampus Unpad, Jatinangor, pada Kamis (13/11).

Gadis mengatakan di antara salmon, sidat, dan gabus, ikan sidat memiliki kandungan omega-3 (DHA dan EPA) tertinggi, serta kaya vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, kalori, dan fosfor.

DHA (asam dokosaheksaenoat) berperan penting dalam perkembangan dan fungsi otak. Sementara EPA (asam eicosapentaenoat) membantu mengurangi peradangan dan menjaga kesehatan jantung.

Karena itu, menurut Gadis, pendekatan pengelolaan berkelanjutan dan berbasis sains (science-based management) dapat mengurangi eksploitasi berlebih yang dapat mengancam populasi ikan sidat di masa mendatang.

Gadis menjelaskan bahwa ikan sidat termasuk biologi kritis, yaitu siklus hidup katadromus. Katadromus artinya ketika telur dan menetas di laut menjadi leptocephalus atau larva yang unik, memiliki bentuk pipih, transparan, dan seperti daun serta tidak punya kemampuan berenang.

Siklus hidup ikan sidat. GAMBAR: KKP

Kemudian selama perjalanan dari perairan laut dalam ke estuari atau badan air semi tertutup yang berada di muara sungai, di mana ”air tawar dari sungai bercampur dengan air laut, berubah menjadi sidat kaca atau glass eel,” ujar Gadis.

Dari hal tersebut, terungkap siklus hidup sidat dari tiga ekosistem, yaitu laut, estuari, dan air tawar sangat rawan terhadap berbagai ancaman dan gangguan. Tingginya permintaan pasar dan tekanan penangkapan glass eel di alam menimbulkan permasalahan terkait kelestarian populasi sidat di Indonesia.

Mulai dari glass eel liar yang ditangkap berlebih, perubahan lingkungan muara, dan pola migrasi yang terganggu, serta perubahan pola musim panen mengakibatkan ketersediaan pasokan untuk industri menjadi tidak stabil.

Ketersediaan pasokan glass eel ini mengakibatkan harga fluktuatif di lapangan, dari harga tinggi hingga harga terendah. Bahkan, ada kalanya glass eel tidak terserap di pasar industri karena kapasitas hatchery yang sudah tidak dapat menampung, kata Gadis.

Sebagai upaya menjaga kelestarian sumber daya dan memastikan pemanfaatan yang berkelanjutan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerbitkan kebijakan pembatasan kuota penangkapan glass eel serta penetapan ukuran minimal ekspor sidat sebesar 150 gram per ekor.

Regulasi ini dimaksudkan untuk mengurangi tekanan eksploitasi terhadap populasi liar sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah melalui kegiatan pembesaran di dalam negeri.

Menurut Gadis, efektivitas kebijakan tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan kapasitas pembesaran dan hatchery, ketergantungan pada pakan impor, serta lemahnya sistem pengawasan dan koordinasi antar pemangku kepentingan.

Tata kelola ekologi adalah fondasi hilirisasi industri sebagai sinergi mutlak. Tata kelola ekologi mencakup implementasi rencana aksi nasional, penerapan konservasi berbasis bukti ilmiah, dan perlindungan terhadap struktur serta fungsi alami ekosistem perairan.

“Transformasi dari pengekspor bahan mentah menjadi produsen bernilai tinggi, melalui budi daya domestik dan pengembangan industri pengolahan ikan sidat sebagai hilirisasi industri,” ujar Gadis.

Dengan demikian, menurut Gadis, ketahanan ekologi dapat tercipta ketika populasi sidat terjaga dan pulih sehingga ekosistem tetap sehat. Sementara ketahanan ekonomi terwujud melalui industri sidat bernilai tinggi yang stabil dan kompetitif di pasar global.

“Pada akhirnya, pemanfaatan sidat yang bertanggung jawab akan menciptakan nilai tambah sekaligus menjaga kelestarian laut dan perairan tawar Indonesia sebagai fondasi masa depan bangsa,” ujarnya.

Populer di Jepang

Ikan sidat sangat populer di Jepang. Kandungan nutrisi pada ikan sidat melebihi salmon. Setiap tahun perdagangan internasional komoditas ikan sidat mencapai nilai $62,5 juta.

Di Jepang ikan sidat disebut unagi. Adakalanya, ikan sidat sering dianggap belut. Ini karena bentuk keduanya bulat memanjang. Padahal ikan sidat dan belut berbeda.

Exit mobile version