Pertama, kata Coutto, emisi karbon yang terkandung dapat dihindari dengan membangun dengan bahan yang lebih sedikit, menggunakan kembali komponen bangunan, dan menggunakan kembali bangunan yang ada sebagai bagian dari pendekatan konstruksi yang lebih sirkular.
Kedua, penting untuk beralih ke bahan bangunan berbasis hayati yang lebih terbarukan dan bersumber secara berkelanjutan, seperti kayu dan bambu.
Ketiga, umat manusia harus meningkatkan dan menurunkan jejak karbon dari material konvensional, termasuk beton, baja, dan aluminium. Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan menggunakan energi terbarukan dalam proses produksinya.
Gabungan semua langkah ini dapat membantu menempatkan dunia pada jalur emisi karbon nol bersih di sektor bangunan dan konstruksi pada tahun 2050.
Beberapa hal yang dapat dilakukan pemerintah, pertama dan terpenting, dapat mengembangkan dan menegakkan peta jalan aksi iklim untuk bangunan dan konstruksi. Sekitar 161 negara belum melakukan hal ini.
”Pemerintah dapat memastikan peraturan energi bangunan selaras dengan prinsip-prinsip bangunan tanpa emisi,” ujar Coutto.
Pemerintah dapat memberi insentif pada investasi dalam membangun dekarbonisasi dan mengembangkan kebijakan untuk mengurangi karbon yang terkandung melalui praktik dan material yang berkelanjutan. Selain itu, mendorong perbaikan bangunan-bangunan tua untuk memangkas konsumsi energi.




