Citra Satelit, Data Akurat Dibutuhkan untuk Mendukung Tata Ruang Daerah

Tambak

Konversi lahan mangrove menjadi areal tambak. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Layanan citra satelit dapat menyediakan kebutuhan akan data yang akurat. Kebutuhan akan data yang akurat ini untuk mendukung tata ruang di berbagai daerah.

Data Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan terjadinya peningkatan terhadap kebutuhan data citra satelit untuk mendukung tata ruang di daerah.

Sejak tahun 2015 hingga 2022, terdapat 4373 permintaan akan data citra satelit. Sepanjang periode tersebut 68% atau 1597 permohonan data citra satelit digunakan untuk mendukung penataan ruang.

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Robertus Heru, mengatakan, meski sempat menurun pada tahun 2020 akibat pandemi, tren permohonan data citra satelit terkait tata ruang dari pemerintah daerah menunjukkan tren yang positif.

Pemerintah daerah membutuhkan citra satelit resolusi tinggi, utamanya untuk mendukung penataan ruang di daerah.

“Selain terkait tata ruang, permohonan data paling banyak secara berturut-turut dimanfaatkan untuk pertanian/perkebunan, kehutanan, kelautan, bencana alam dan seterusnya,” ujar Heru dalam Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) BRIDA di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (8/2).

“Untuk mendukung kebutuhan pemerintah daerah tersebut, kami akan terus meningkatkan kualitas layanan citra data satelit, terutama data terkait tata ruang karena data ini yang paling banyak permohonannya.”

Menurut Heru data citra satelit sendiri memiliki keunggulan berupa cakupannya yang luas, perolehan yang hampir real-time, juga konsisten secara waktu dan data.

Selain Tata Ruang dan Peta Dasar, data citra satelit di Indonesia sudah dimanfaatkan untuk mendukung pemantauan sumber daya alam dan lingkungan, kebencanaan, pertahanan dan keamanan, dan perubahan iklim.

Heru mengatakan lisensi data citra catelit yang dimiliki oleh BRIN sifatnya nasional, sehingga pemerintah daerah dapat memperoleh data citra satelit dengan tarif non-komersil untuk citra rendah dan sedang, sedangkan tarif komersil untuk resolusi tinggi.

Untuk pemanfaatannya sendiri secara lebih spesifik, kata Heru, data citra satelit yang kami sediakan digunakan untuk identifikasi ruang terbuka hijau dan perubahannya, penyimpangan tata ruang, zona penangkapan ikan, titik api potensi kebakaran hutan, penurunan tanah, hingga perkembangan tanaman pertanian.

Saat ini, data citra satelit masih terdapat kekurangan, terutama layanan data citra satelit untuk daerah yang sering berawan seperti Papua dan Kalimantan Timur.

“Kita akan perbaiki itu agar bisa mendapatkan citra satelit dengan resolusi sangat tinggi yang ter-update setiap tahun, yang bisa dikombinasikan dengan berbagai data yang ada di pemda menjadi geographical information system,” katanya.

Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Oetami Dewi, menjelaskan bahwa BRIN tidak berhenti pada tahap menyediakan data saja.

BRIN juga menyediakan pendampingan dalam bentuk bimbingan teknis bagi pemerintah daerah untuk memanfaatkan data citra satelit yang BRIN berikan.

Tidak hanya memberikan data, kata Dewi, kami juga siap memberikan pendampingan dalam bentuk bimbingan teknis untuk meningkatkan kapasitas teman-teman di daerah.

“Harapannya teman-teman di daerah nantinya akan dapat memanfaatkan data citra satelit yang kami berikan secara optimal sesuai dengan kebutuhan daerah maasing-masing,” ujar Dewi.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, mengatakan BRIN saat ini membuka skema kolaborasi dan fasilitasi untuk berbagai pihak, baik untuk pemerintah daerah, industri dan juga perguruan tinggi. Salah satunya memberikan pelayanan data citra satelit.

“Kami akan semakin perkuat, karena ini menjadi satu sumber daya utama untuk perencanaan pembangunan,” katanya.

Exit mobile version