Darilaut – Lebih dari 15 ribu warga di tiga kabupaten di Provinsi Gorontalo terdampak kekeringan dan mengalami kesulitan air bersih. Lokasi yang sulit air bersih ini tersebar di Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo Utara.
Data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo, hingga Kamis (6/8), mencatat sebanyak 15.531 jiwa dari 6.100 kepala keluarga (KK) yang terdampak dari tiga kabupaten dan dilaporkan mengalami kekeringan serta kekurangan air bersih.
BPBD Provinsi Gorontalo terus mengintensifkan distribusi air bersih ke wilayah-wilayah terdampak sebagai upaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Gorontalo Rusli W. Nusi, melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Gorontalo Hifny Tegela, mengatakan pihaknya terus melakukan asesmen lapangan secara berkala untuk memastikan distribusi bantuan berjalan tepat sasaran sesuai tingkat kebutuhan masyarakat.
“Data dampak kekeringan terus mengalami perkembangan seiring hasil pendataan di lapangan. Hingga saat ini tercatat sebanyak 15.531 jiwa dan 6.100 KK terdampak di tiga kabupaten,” kata Hifny.
BPBD bersama pemerintah kabupaten/kota dan seluruh pemangku kepentingan terus bergerak menyalurkan air bersih kepada masyarakat yang mengalami krisis air.
Menurut Hifny, distribusi air bersih dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan desa-desa yang mengalami penurunan debit sumber air bersih serta wilayah yang akses airnya semakin terbatas akibat musim kemarau berkepanjangan.
Selain mendistribusikan air bersih, BPBD Provinsi Gorontalo juga terus melakukan pemantauan kondisi cuaca dan potensi kekeringan bersama instansi terkait. Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar dalam menentukan prioritas penanganan serta percepatan respons apabila terdapat penambahan wilayah terdampak.
Hifny menjelaskan bahwa penanganan kekeringan tidak dapat dilakukan oleh BPBD semata, melainkan membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah kabupaten, perangkat daerah, dunia usaha, organisasi kemanusiaan hingga masyarakat.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan optimal. Kami mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama membantu masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih, sehingga kebutuhan dasar mereka tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung, kata Hifny.
Sebagai bentuk respons cepat, BPBD Provinsi Gorontalo bersama BPBD kabupaten, Dinas Sosial, Balai Wilayah Sungai (BWS), TNI/Polri, PMI, PDAM, serta pemerintah daerah terus mengoptimalkan distribusi air bersih.
Warga di tiga kabupaten terdampak kekeringan dan membutuhkan pasokan air bersih tersebar di 12 kecamatan.
Sebaran wilayah terdampak di Kabupaten Kabupaten Bone Bolango di Kecamatan Bone Pantai, Kecamatan Suwawa Selatan, Kecamatan Kabila Bone, Kecamatan Bulango Timur, Kecamatan Tilongkabila, Kecamatan Suwawa Tengah.
Kabupaten Gorontalo di Kecamatan Boliyohuto, Kecamatan Tibawa, Kecamatan Pulubala, Kecamatan Bongomeme, Kecamatan Tabongo. Sementara di Kabupaten Gorontalo Utara berada di Kecamatan Tomilito.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis dasarian atau jangka waktu yang lamanya sepuluh hari berturut-turut di wilayah Indonesia.
Khusus Provinsi Gorontalo, status siaga peringatan dini kekeringan meteorologis dasarian I Agustus 2026 mencakup enam wilayah di lima kabupaten dan satu kota.
Menurut BMKG, peringatan dini kekeringan meteorologis tersebut di Kabupaten Boalemo, Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Gorontalo Utara, Kabupaten Pohuwato dan Kota Gorontalo.
