“Gas hidrat itu sebetulnya adalah zat padat seperti es. Artinya, gas metana yang bersatu dengan air,” kata Susilohadi mengutip Brin.go.id.
Metana hidrat terbentuk secara alami pada kondisi suhu rendah dan tekanan tinggi di dasar laut, biasanya pada kedalaman lebih dari 500 meter. Meskipun berbentuk padat, kandungan metana di dalamnya sangat tinggi sehingga berpotensi menjadi sumber energi alternatif.
Namun, luasnya wilayah laut dalam Indonesia yang mencapai sekitar sepertiga dari total perairan nasional menunjukkan potensi sebenarnya masih sangat besar dan belum sepenuhnya terungkap.

Meski memiliki potensi besar, pengembangan metana hidrat masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu kendala utama adalah teknologi ekstraksi yang masih dalam tahap pengembangan dan membutuhkan biaya yang sangat besar.
Selain itu, keterbatasan infrastruktur riset juga menjadi hambatan dalam pengembangan sumber energi ini di Indonesia.
“Sampai saat ini kita belum bisa mengambil data primer terkait metana hidrat. Jadi, penelitian yang dilakukan masih memanfaatkan data seismik sekunder yang sudah ada,” ujarnya.
Susilohadi mengatakan pemerintah berencana akan memiliki kapal riset yang lebih memadai pada 2029. Sehingga, penelitian lebih mendalam kemungkinan baru dapat dilakukan sekitar 2030.




