Selain itu, menurut BMKG, di wilayah Selat Karimata kecepatan angin masih menguat yang mendeteksi adanya aktivitas Cross-Equatorial Northerly Surge.
Di wilayah barat dan selatan Indonesia juga teramati angin baratan yang menguat sehingga mengakibatkan terjadinya konvergensi dan konfluensi yang meningkatkan pembentukan awan konvektif di wilayah Samudra Hindia barat Sumbar hingga Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Papua Pegunungan dan Papua Selatan.
Keberadaan Bibit Siklon Tropis 98S yang telah melemah menjadi pusat tekanan rendah turut berkontribusi terhadap peningkatan pembentukan awan konvektif di wilayah selatan Indonesia dalam sepekan terakhir.
Hal ini juga didukung oleh kondisi kelembaban udara yang tinggi serta labilitas atmosfer yang kuat.
Akibat dari beberapa faktor tersebut, proses pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan, berlangsung lebih intensif dan dengan cakupan yang meluas, sehingga memicu terjadinya berbagai bencana hidrometeorologis dalam periode sepekan terakhir, kata BMKG.
Daerah tekanan rendah berpotensi terbentuk di Teluk Carpentaria. Bibit siklon tropis ini dapat membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di wilayah Indonesia bagian selatan.




