“Kami belajar dari kebutuhan audiens. Mereka tidak hanya ingin berita, tapi juga konten yang relevan dengan kehidupan sehari-hari seperti hobi, kuliner, dan hal-hal lokal”.
COO KapanLagi Youniverse (KLY), Wenseslaus Manggut, menilai bahwa peran jurnalis dan influencer kini saling beririsan. Ia menekankan bahwa jurnalis yang berpengalaman di bidang tertentu sebenarnya bisa menjadi influencer yang kredibel.
“Ketika orang yang paham bicara langsung ke publik, pengaruhnya bisa jauh lebih kuat”.
Meski demikian, para narasumber menyoroti pentingnya verifikasi informasi di tengah derasnya arus digitalisasi. Menurut Wahyu, kecepatan produksi konten kadang membuat new media kurang cermat dalam memframing berita. Oleh karena itu, kolaborasi antara media arus utama, new media, dan influencer dianggap penting untuk menjaga kredibilitas informasi dan membangun narasi publik yang sehat.
Indonesia Digital Conference (IDC)2025 menjadi ajang tahunan AMSI yang menyoroti isu-isu strategis dunia media digital. Tahun ini, IDC mengangkat tema “Sovereign AI: Menuju Kemandirian Digital”, yang menekankan pentingnya kedaulatan industri media di tengah gelombang transformasi digital berbasis kecerdasan buatan. (Novita J. Kiraman)




