Darilaut – Disinformasi menyebar secara online setelah peristiwa Gempa Noto di Jepang. Perusahaan media sosial perlu memperkenalkan sistem untuk mengidentifikasi informasi palsu.
Gempa bumi dahsyat yang terjadi Senin 1 Januari 2024 tersebut melanda Prefektur Ishikawa. Pada Jumat 1 Maret 2024, menandai dua bulan sejak gempa mematikan melanda Jepang tengah.
Nippon Hoso Kyokai (NHK), menemukan bahwa pada hari terjadinya gempa dan keesokan harinya, setidaknya terdapat 23 postingan media sosial yang masing-masing dilihat lebih dari 10.000 kali.
Pesan-pesan tersebut menyertakan alamat spesifik dan panggilan bantuan, dan beberapa berisi disinformasi.
Salah satu postingan tersebut menyebutkan, “Kaki suami saya terjepit dan dia tidak bisa keluar. Panggilan darurat tidak dapat tersambung.” Informasi dalam postingan ini dipastikan palsu.
NHK berbicara dengan Kido Masahiko, warga dari alamat yang tertera di postingan tersebut. Kido mengatakan berada di rumah rekannya pada saat bencana terjadi.
Menurut Kido, gempa tersebut merusak pilar-pilar rumahnya, namun anggota keluarganya yang kebetulan berada di sana tidak terluka.
Tiga hari kemudian, akun yang sama memposting: “Suami saya telah meninggal.” Postingan tersebut telah dilihat sekitar 72 juta kali.
Kido menggambarkan disinformasi tersebut sebagai “gangguan”.
“Sebagai penyintas bencana, saya berharap kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi,” ujarnya.
Ada juga kasus di mana petugas tanggap darurat dikirim ke suatu lokasi berdasarkan informasi palsu yang terdapat dalam sebuah postingan.
Seseorang meminta bantuan setelah melihat postingan yang mengklaim bahwa seseorang terkubur di bawah reruntuhan. Postingan tersebut mencantumkan alamat di Kaga.
Tim pekerja darurat segera menuju lokasi setelah menerima panggilan tersebut. Namun mereka tidak menemukan bukti adanya situasi darurat di alamat yang tercantum, tempat fasilitas penyimpanan berada.
Seorang pejabat pemadam kebakaran di Kota Kaga memperingatkan bahwa mengirimkan tim penyelamat berdasarkan informasi palsu dapat mencegah mereka menjangkau orang-orang yang benar-benar membutuhkan bantuan.
Sebuah perusahaan di Jepang yang memeriksa fakta postingan media sosial telah membentuk tim ahli yang menyampaikan informasi kepada pejabat Prefektur Ishikawa.
Para ahli memverifikasi alamat yang disebutkan dalam sebuah postingan dengan melakukan referensi silang dengan peta.
Mereka juga memeriksa profil akun dan postingan sebelumnya untuk melihat apakah orang tersebut benar-benar ada di situs tersebut.
Para ahli mengatakan perusahaan media sosial perlu mempertimbangkan untuk memperkenalkan sistem untuk mengidentifikasi informasi palsu.
Sumber: NHK
