Darilaut – Penyakit akibat polusi udara menyebar di semua kalangan tanpa adanya patokan umur. Dosen Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Ulfa Aulia, menjelaskan, penyakit dari polusi udara ini tidak mengenal jenjang usia.
”Semua bisa terinfeksi, apalagi kalau sisten imun tubuhnya kurang baik, juga aktivitasnya yang lebih banyak dilakukan di luar rumah,” kata Ulfa, Jumat (3/5).
Melansir BRIN, Provinsi dengan beban penyakit akibat polusi udara tinggi ada di kawasan timur Indonesia, seperti Sulawesi Barat, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), Gorontalo, dan Sulawesi Tengah. Polusi udara tersebut dapat menyebabkan berbagai penyakit.
Hasil analisis Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dede Anwar Musadad menunjukkan, lima besar penyakit akibat polusi udara di Indonesia tahun 2019 secara berturut-turut adalah stroke, penyakit jantung iskemik (ischemic heart disease), diabetes melitus, penyakit paru obstruktif kronis (chronic obstructive pulmonary disease /COPD), dan neonatal disorders.
Menurut Ulfa, penyakit akibat polusi udara juga dapat disebabkan pengolahan sampah yang kurang tepat. Hal ini karena banyak yang lebih memilih membakar sampah dan tidak mendaur ulang, misalnya, menjadi menjadi pupuk.
”Apalagi adanya dampak meletusnya Gunung Ruang yang mana udara di Gorontalo ikut terkontaminasi akibat abu vulkanik, tentu ini perlu adanya perhatian khusus,” ujar Ulfa, Jumat (3/5).
Ulfa mengatakan penyakit yang paling banyak terinfeksi akibat polusi udara adalah ISPA (infeksi saluran pernapasan akut).
ISPA dapat disebabkan oleh berbagai macam penyebab, seperti virus, bakteri, atau bahkan jamur. Dampak buruk dari penurunan kualitas udara ini sangat jelas. Terutama yang tinggal di perkotaan, berisiko lebih tinggi terkena ISPA karena paparan polusi udara.
Di Jurusan Kesehatan Masyarakat UNG, kata Ulfa, terdapat praktikum Cassing. Praktikum ini bertujuan untuk mengukur tingkat polusi udara.
Langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit akibat polusi udara yaitu dengan menjaga kondisi tubuh melalui olahraga, makan makanan yang bergizi, tidak sembarangan mengonsumsi jajanan di luar rumah, karena peluang terkontaminasi polusi udara lebih besar akibat asap kendaraan.
Polusi udara, menurut WHO, adalah adanya kontaminasi lingkungan yang ada di dalam atau luar ruangan.
Penyebabnya adalah agen kimia, fisik, biologis, dan lain-lain yang bisa mengubah karakteristik alami atmosfer. Kontaminasi ini pada umumnya terjadi sebagian besar karena aktivitas manusia. Masuknya kontaminan polusi udara dan bahan kimia ke dalam tubuh manusia bisa melalui inhalasi, tertelan (ingesti), dan absorpsi melalui kulit atau membran mukosa. (Novita J. Kiraman)
