Selain itu, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terbukti secara konsisten menurunkan tingkat kemiskinan anak. Hal ini menegaskan pentingnya pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan dan kesehatan sebagai fondasi utama pengentasan kemiskinan jangka panjang.
Penelitian ini juga menyoroti adanya ketimpangan kemiskinan anak antarwilayah, di mana provinsi-provinsi di Indonesia bagian timur, khususnya Papua dan Papua Barat, masih mencatat tingkat kemiskinan anak tertinggi secara nasional. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya kebijakan afirmatif dan pembangunan yang lebih merata antarwilayah.
Menariknya, beberapa variabel seperti pekerja anak, ketimpangan pendapatan, angka putus sekolah usia 7–12 tahun, tingkat pendidikan prasekolah, serta penerima Program Indonesia Pintar (PIP) pada jenjang SD dan SMP tidak menunjukkan pengaruh signifikan dalam model penelitian. Temuan ini mengindikasikan perlunya evaluasi dan penguatan efektivitas program-program tersebut.
Melalui riset ini, tim peneliti FEB UNG merekomendasikan pendekatan kebijakan yang terintegrasi dalam penanggulangan kemiskinan anak, meliputi penguatan sistem administrasi kependudukan, transformasi digital pendidikan, peningkatan kualitas pembangunan manusia, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.




