Darilaut – Dua ilmuwan Indonesia, Edvin Aldrian dan Intan Suci Nurhati, terpilih sebagai bagian dari tim global penyusun Laporan Penilaian Ketujuh (Seventh Assessment Report/AR7) – Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atau Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim.
Proses seleksi IPCC ini dikenal sangat ketat dan kompetitif. Lebih dari seribu nominasi dari seluruh dunia yang masuk. Namun, hanya 193 ilmuwan dari 62 negara yang terpilih.
Seleksi mempertimbangkan keseimbangan keahlian ilmiah, representasi geografis, pengalaman di IPCC, serta keragaman gender.
Keduanya merupakan periset Organisasi Riset Kebumian dan Maritim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yakni Edvin Aldrian, Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer dan Intan Suci Nurhati, Periset Pusat Riset Laut Dalam.
IPCC menyediakan laporan ilmiah paling bergengsi di dunia yang akan menjadi acuan utama dalam perundingan dan kebijakan iklim global mendatang.
IPCC sendiri merupakan badan bentukan Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) sejak 1988. Lembaga ini menjadi otoritas ilmiah tertinggi dalam isu perubahan iklim.
Adapun Laporan AR7 yang akan disusun dari 2025 hingga 2028 akan menjadi fondasi ilmiah terbaru mengenai perubahan iklim global, dampaknya, serta strategi mitigasi dan adaptasi.
Laporan ini akan menjadi acuan utama bagi para negosiator iklim internasional dan pembuat kebijakan di seluruh dunia.
“Terlibat dalam IPCC bukan hanya pengalaman ilmiah, akan tetapi juga mengenai sebuah filosofis,” ujar Intan.
“Saya belajar bahwa inklusivitas itu penting. Yakni, mendengarkan pendapat yang beragam, meski prosesnya lebih panjang. Ini untuk menghasilkan keputusan bersama yang bisa dijalankan semua pihak.”
Intan dan Edvin akan berkontribusi dalam Working Group I (WGI), yang fokus pada dasar-dasar ilmiah fisik dari perubahan iklim.
Edvin, yang juga merupakan Wakil Ketua WGI, ditunjuk sebagai Review Editor untuk Bab 6, mengenai Proyeksi Global terhadap Respons Sistem Bumi dalam Berbagai Skala Waktu.
Sedangkan Intan, yang sebelumnya menjadi penulis utama pada bab tentang Samudra dan Kenaikan Muka Laut pada AR6, kini ditunjuk sebagai Review Editor untuk Bab 2, mengenai Perubahan Skala Besar dalam Sistem Iklim dan Penyebabnya.
Sebagai Review Editor, peran mereka krusial dalam memastikan bahwa seluruh masukan, termasuk dari pemerintah negara-negara, ditanggapi dengan cermat dan adil.
Tugas ini menuntut pemahaman menyeluruh terhadap isu-isu teknis dan ilmiah, serta kemampuan menjaga integritas proses penyusunan laporan.
Keterlibatan ilmuwan Indonesia dalam tim utama IPCC menunjukkan pengakuan dunia terhadap kapasitas riset iklim Indonesia. Ini sekaligus menegaskan kontribusi nyata Indonesia dalam upaya global menghadapi krisis iklim.
