Laporan tersebut menyimpulkan perlunya peningkatan kapasitas penilaian, dukungan finansial dan teknis yang memadai serta dapat diprediksi, prosedur akses yang lebih sederhana, dan partisipasi bermakna dari masyarakat yang terdampak dalam merumuskan respons terhadap kerugian dan kerusakan yang terjadi.
Meskipun pertumbuhannya masih jauh di bawah laju yang diperlukan untuk memenuhi Glasgow Climate Pact—yaitu menggandakan pendanaan dari tingkat tahun 2019 menjadi US$40 miliar pada tahun 2025—target tersebut masih mungkin untuk dicapai.
Bank Pembangunan Multilateral (MDB) kemungkinan telah meningkatkan pendanaan mereka secara signifikan pada tahun 2025; namun, pencapaian target ini akan bergantung pada apakah arus pendanaan adaptasi dari mitra pembangunan bilateral turut terdampak oleh penurunan bantuan pembangunan resmi (official development assistance).
Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen, mengatakan dunia belum siap beradaptasi dengan kondisi iklim saat ini, apalagi menghadapi dampak yang akan muncul jika ambang batas 1,5°C terlampaui.
Pada konferensi iklim COP31 di Turki dan seterusnya, berbagai negara harus fokus mengintensifkan upaya untuk mencapai aspirasi COP30—yang dikenal sebagai Global Mutirão—untuk melipatgandakan pendanaan adaptasi pada tahun 2035. Mereka juga harus memahami bahwa pendanaan tersebut perlu ditingkatkan lebih jauh lagi demi menyelamatkan nyawa, mencegah kerugian dan kerusakan, serta melindungi perekonomian, kata Andersen.




