Senin, April 20, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Berita

Orang-orang Bajo

Christopel Paino
9 Juli 2018
Kategori : Berita
0
Orang-orang Bajo

Salah satu perahu suku Bajo dari Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Foto: CHRISTOPEL PAINO

Videografer Danddy Dwi Laksono, melakukan penelusuran terhadap orang-orang Bajo, di Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato di Gorontalo. Orang Bajo terkenal sebagai pelaut yang ulung. Oleh peneliti dari Eropa mereka sering disebut sebagai gipsi laut karena kebiasaan mereka yang “no maden” atau berpindah-pindah tempat, dan menjadikan perahu sebagai tempat tinggal. 

Namun julukan sebagai pelaut ulung yang sering melekat kepada orang Bajo itu sekarang semakin hilang seiring dengan adanya program “mendaratkan” suku Bajo oleh pemerintah, yaitu dengan cara membuatkan mereka rumah-rumah di darat. Orang-orang Bajo seolah dipisahkan dari laut. Dandhy Dwi Laksono yang melakukan ekspedisi jurnalisme bertajuk Ekspedisi Indonesia Biru dengan mengelilingi Indonesia menggunakan sepeda motor di tahun 2015, mendatangi perkampungan suku Bajo di ujung barat Gorontalo itu pada awal Juli 2018. Berikut adalah catatan singkatnya: 

 

Jurnalis Muhammad Ridwan Alimuddin menemukan mereka dalam pelayaran di sekitar pulau Sipadan dan Ligitan tahun 2009. Jurnalis Farid Gaban bertemu dalam perjalanan di sekitar perairan Karimata tahun 2010. Beberapa jurnalis lain sempat merekam kehidupan mereka di perairan sekitar Marombo, Kendari, tahun 2013.

Tapi “penampakan” terbesar tercatat tahun 2015 di Berau, Kalimantan Utara, ketika aparat NKRI menggiring hingga 500-an jiwa untuk “didata”, “dipulangkan”, atau “dimukimkan” dengan dalih mereka adalah nelayan tanpa identitas dan kewarganegaraan.

Negara-negara yang baru seumur jagung seperti Indonesia, Malaysia, atau Filipina, sibuk mempersoalkan identitas sebuah suku maritim yang telah berabad hidup dan menjelajah dari Laut Cina Selatan hingga tersebar di Kepulauan Pasifik, bahkan Selandia Baru.

Hanya karena beberapa lembar kertas bernama paspor atau KTP, keberadaan mereka tak diakui beberapa negara. Indonesia menganggapnya “nelayan asing”, sementara Malaysia juga tak mengakuinya. Bandingkan jika menyangkut wilayah atau teritori seperti Sipadan dan Ligitan, bahkan Kepulauan Sparatly di Laut Cina Selatan yang diperebutkan setidaknya lima negara. Tapi tak tak ada yang berebut mengakui keberadaan manusia pengelana laut ini, selain melihatnya dari kacamata legal dan ilegal.

Atas nama “hidup yang lebih baik” pemerintah lalu membuat program memukimkan mereka di sejumlah pulau atau daratan. Tak sedikit dengan cara-cara pemaksaan dan intimidasi, seperti pengusiran di pulau-pulau tempat mereka berteduh dari badai jika tak dapat menunjukkan identitas. Atau pulau-pulau di mana nenek moyangnya dulu mencari air atau bertukar ikan dengan ubi pada warga setempat.

Dalam beberapa kasus seperti di pulau Bali Kukup (Kalimantan Utara), mereka terpaksa membeli surat jalan dari aparat pemerintah desa agar tidak ditangkap tentara atau polisi di tengah laut.

Padahal peradaban darat tak selalu mengajarkan kebaikan. Sejak bermukim, mereka justru mengenal bom ikan. Ikatan pada terumbu karang tak kuat lagi karena daratan menyediakan sumber-sumber ekonomi alternatif. Sebelumnya, alat tangkap paling masif adalah pukat atau jaring, selain tombak, panah, atau jerat, dan mustahil mereka menumpaskan terumbu karang tempatnya menggantungkan hidup setiap hari.

“Sekarang kalian mengusir kami, tapi saya ingat di mana karang kalian. Anak cucu saya kelak akan kembali.” Itu kutipan yang terkenal di warga Bali Kukup saat mereka merasa terusir. Orang yang “mengancam” dengan identifikasi lokasi karang, sulit dibayangkan akan menggunakan teknik-teknik penangkapan seperti bom ikan yang menumpaskan ekosistem karang itu sendiri.

Setelah peristiwa di Berau tahun 2015 silam, mencari keberadaan mereka di perairan Indonesia kini menjadi usaha yang hampir mustahil. Sebagian akhirnya menyiasati berurusan dengan negara dengan cara menerima program bantuan rumah di permukiman, tapi tetap mengelana di lautan, sekadar untuk mendapatkan identitas.

Tradisi “pongka” atau “maleppa” (tinggal di atas perahu yang disebut Leppa), masih dilanjutkan oleh beberapa keluarga meski jumlahnya semakin langka.

Setelah berbulan-bulan mencari dari Selat Makassar hingga menebar mata dan telinga di perairan Kendari sampai perairan pulau Bacan, Juli 2018 ini akhirnya kami menemukan sebuah keluarga sedang “maleppa” di sekitar Teluk Tomini dan mulai melakukan proses pengambilan gambar.

Berbeda dengan leluhurnya yang hidup berkelompok besar (extended family), kini mereka nyaris hanya bekerja dengan keluarga inti (nuclear family).

Kita menyebutnya: Orang Bajo.

Tags: Gipsi LautSuku BajoTorosiaje
Bagikan14Tweet7KirimKirim
Previous Post

FTIK UHT Gali Potensi Ahli Muda Kelautan

Next Post

Banyak Faktor penyebab Kebocoran Pipa Gas Bawah Laut

Postingan Terkait

Daya Tampung UTBK – SNBT di Universitas Negeri Gorontalo 3063 Kursi

UNG Dorong Mahasiswa Lulus Tanpa Skripsi dengan Syarat Menghasilkan Karya Setara Tugas Akhir

19 April 2026
Tuna Sirip Biru Terjual Rp 3,9 Juta Per Kilogram di Yilan Taiwan

Tuna Sirip Biru Terjual Rp 3,9 Juta Per Kilogram di Yilan Taiwan

19 April 2026

Peneliti UNG Publikasikan Kompetensi Penerjemah di Jurnal Terindeks Scopus Q1

Gempa M5,8 Terletak Selatan Bone Bolango Laut Maluku

Nelayan dan Warga Bersih Pantai di Pesisir Bone Bolango, Teluk Tomini

Tahun 2026 UNG Targetkan 55 Persen Program Studi Terakreditasi “Unggul”

Eutrofikasi di Teluk Jakarta Sangat Tinggi Secara Global

Eutrofikasi Mengganggu Keseimbangan Ekosistem Perairan dan Memiliki Dampak Sosial yang Luas

Next Post
Banyak Faktor penyebab Kebocoran Pipa Gas Bawah Laut

Banyak Faktor penyebab Kebocoran Pipa Gas Bawah Laut

Komentar tentang post

TERBARU

UNG Dorong Mahasiswa Lulus Tanpa Skripsi dengan Syarat Menghasilkan Karya Setara Tugas Akhir

Tuna Sirip Biru Terjual Rp 3,9 Juta Per Kilogram di Yilan Taiwan

Peneliti UNG Publikasikan Kompetensi Penerjemah di Jurnal Terindeks Scopus Q1

Gempa M5,8 Terletak Selatan Bone Bolango Laut Maluku

Nelayan dan Warga Bersih Pantai di Pesisir Bone Bolango, Teluk Tomini

Tahun 2026 UNG Targetkan 55 Persen Program Studi Terakreditasi “Unggul”

AmsiNews

REKOMENDASI

Cuaca Ekstrem Cenderung Meningkat di Indonesia

Korban Tewas Gempa Dahsyat di Maroko Lebih 1000 Orang

Bom Ikan di Kolaka

8 Tewas Karena Topan Gaemi di Taiwan, 290 Ribu Orang Dievakuasi di Fujian

Topan Super Gaemi Menumbangkan Ratusan Pohon, Lebih 11 Ribu Rumah Tanpa Listrik

Komisi Perikanan Menyetujui Peningkatan Kuota Penangkapan Tuna Sirip Biru Pasifik Ukuran Besar

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.