Kemajuan juga masih lambat dalam hal pendanaan, keterampilan, kerja sama, dan data, serta dalam penyediaan insentif ekonomi yang memberikan imbalan bagi upaya perlindungan alam, alih-alih perusakan alam.
“Kabar buruk ini berarti perang terhadap alam belum berakhir,” ujar Guterres saat peluncuran laporan tersebut di Yerevan.
Meski demikian, terdapat sejumlah kemajuan sejak tahun 2022.
Hampir 90 persen negara yang menjadi pihak dalam Konvensi Keanekaragaman Hayati telah menetapkan target nasional, dan lebih dari separuhnya telah menyusun rencana sendiri untuk mencapainya.
Lebih dari 70 persen negara telah mengukur dan melaporkan hasil capaian mereka. Masyarakat adat, komunitas lokal, otoritas regional dan kota, lembaga amal, serta dunia usaha telah menyampaikan sekitar 5.000 komitmen—meskipun laporan tersebut memperingatkan adanya kesenjangan serius antara ambisi dan tindakan nyata.
Laporan tersebut menyatakan bahwa untuk menutup kesenjangan itu, negara-negara berkembang memerlukan dukungan dana dan keahlian dalam skala yang jauh lebih besar.
Pemerintah perlu menghapus subsidi yang merusak alam, memperkuat perlindungan sosial, mengalihkan anggaran untuk upaya pelestarian alam, serta bekerja sama dengan sektor swasta dalam menyusun aturan pengungkapan informasi yang tegas.




