Hal ini menunjukan bahwa erupsi dapat kembali terjadi sewaktu-waktu, tulis Badan Geologi melalui akun X @badangeologi_/.
Badan Geologi melalui Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau yang berada di Pasauran, Banten dan Kalianda, Lampung terus melakukan pemantauan intensif.
Hasil pemantauan Badan Geologi hingga Senin 7 September siang, terjadi 17 low frekuensi atau gempa berfrekuensi rendah yang dapat berkaitan dengan dinamika fluida gunung api. Aktivitas 23 gempa hybrid (fase banyak), sinyal beberapa fase yang dapat mencerminkan rekahan batuan dan pergerakan fluida.
Badan Geologi mencatat juga 9 tremor harmonik, getaran berirama yang dapat berkaitan dengan pergerakan fluida dalam system gunung api. Tremor menerus, getaran yang terekam terus-menerus, menunjukkan aktivitas berkelanjutan dalam sistem gunung api.
Saat kejadian korban kapal cepat Arupadhatu 1 hilang status Gunung Anak Krakatau berada pada level III (Siaga). Hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) terhitung mulai tanggal 21 September 2026 pukul 18.30 WIB.
Muka Air Laut
BRIN memantau aktivitas vulkanik gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, sebagai upaya mitigasi bencana. Salah satu yang patut diwaspadai potensi terjadinya tsunami.



