Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Semeidi Husrin, menjelaskan bahwa hasil pemantauan menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas vulkanik pada periode awal September 2026 belum disertai anomali muka air yang mengindikasikan potensi gelombang tsunami.
Pemantauan tersebut dengan menggunakan teknologi Inexpensive Device for Sea-Level measurement (IDSL) atau Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut (PUMMA) yang ditempatkan di sekitar Kawasan gunung api Anak Krakatau, termasuk Pulau Rakata dan (sebelumnya) Pulau Panjang.
Secara umum, menurut Semeidi, selama meningkatnya aktivitas gunung api Anak Krakatau, tidak menemukan ada anomali yang berpotensi bisa membangkitkan gelombang tsunami.
Pemantauan menghadapi tantangan teknis di lapangan. Aktivitas vulkanik dapat menghasilkan material yang menutupi panel surya dan mengganggu pasokan daya perangkat. Kondisi tersebut menyebabkan jeda penerimaan data selama sekitar 11 jam pada 6 September 2026.
“Pada hari Senin, 7 September 2026 saat peristiwa jurnalis hilang kontak, kami mendeteksi peristiwa aneh karena ada anomali tapi kami pastikan itu bukan tsunami,” kata Semeidi, seperti dikutip dari Brin.go.id.
Pola Hanyutan Kapal Cepat Arupadhatu
Penemuan satu jenazah korban kapal cepat Arupadhatu 1 di Pulau Enggano, Bengkulu, pada 12 September 2026 menjadi data penting bagi OCRG, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer – BRIN dalam mengevaluasi model transpor partikel yang digunakan untuk memetakan pola hanyutan di Selat Sunda.



