Dengan kondisi seperti itu, dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran UNG yang diketuai Vivien melakukan penelitian serta pengabdian kepada masyarakat melalui pendanaan riset kolaboratif unggulan fakultas PNBP UNG, tentang manajemen gizi dalam situasi bencana.
Berdasarkan hal ini diperlukan manajemen gizi dalam situasi bencana yang cepat dan tepat agar pengungsi tidak kelaparan dan dapat mempertahankan status gizinya terutama pada kelompok-kelompok rentan, kata Vivien.
Masalah gizi pada bayi dan balita akibat bencana adalah bayi tidak mendapatkan ASI karena terpisah dari ibunya, melimpahnya bantuan susu formula bayi dan botol susu, kurangnya pengetahuan dalam penyiapan makanan buatan lokal khususnya bayi dan balita. Selain itu, pemberian makanan yang tidak tepat pada kelompok tersebut dapat meningkatkan risiko kesakitan dan kematian, terlebih pada situasi bencana.
“Risiko kematian lebih tinggi pada bayi dan anak yang menderita kekurangan gizi mikro. oleh karena itu penanganan gizi dalam situasi bencana menjadi bagian penting untuk menangani pengungsi secara cepat dan tepat,” katanya.
Program Manajemen Gizi dalam Bencana melibatkan pemerintah desa, puskesmas dan sekolah yang berada di wilayah kecamatan Bulango Utara.
Pelaksanaan program ini merupakan pilot project yang nantinya dapat menjadi contoh bagi daerah-daerah lainnya dalam penerapan manajemen gizi dalam situasi.




